New Post!
SAHABAT JADI CINTA
Karya Raswati Dini Rahayu
Bel sekolah pun berbunyi tanda masuk kelas, aku masuk ke kelas dengan sahabatku yang bernama iqbal. Dia itu teman aku sejak kecil, orangnya sangat baik dan perhatian kepada semua orang terutama kepadaku sahabat terbaiknya. Karena dia orangnya sangat menyenangkan membuat aku selalu nyaman berteman dengannya.
“ iqbal, loe udah ngerjain tugas belum kalau udah gue nyontek donx” kataku
“ Akh loe bel bisanya nyontek melulu kapan loe bisa ngerjain tugas sendiri tanpa bntuan orang lain” jawab ikbal
“ He he he” aku malah tersenyum
“ Ekh mlah senyum nich tapi awas besok jangan nyontek lagi yach” kata iqbal
“ sok sift” jawabku
“ iqbal, loe udah ngerjain tugas belum kalau udah gue nyontek donx” kataku
“ Akh loe bel bisanya nyontek melulu kapan loe bisa ngerjain tugas sendiri tanpa bntuan orang lain” jawab ikbal
“ He he he” aku malah tersenyum
“ Ekh mlah senyum nich tapi awas besok jangan nyontek lagi yach” kata iqbal
“ sok sift” jawabku
![]() |
| Sahabat Jadi Cinta |
Akhirnya pelajaran pun selesai sekarang waktunya pulang, hari ini aku gak di jemput sama ilham cowokku. Dia lagi ada tugas di kampusnya karena dia sudah menjadi mahasiswa, aku dan dia cuman berbeda 2 tahun. Dari tempat parkiran kelihatan ikbal lagi ngeluarin motornya kemudian aku menghampirinya.
“ Ikbal tunggu, bareng yuk pulangnya” kataku kepada iqbal
“ ayo emang loe nga di jemput bel sama cowok loe” jawab iqbal
“ gak dia lagi ada tugas di kampusnya jadi gak bisa jemput gue hari ini, gue bareng loe yach” ucapku
“ Ayo, kita kan tetanggaan jadi pulangnya searah, ayo naek”ajak iqbal
“ ok thanx yach bal, loe emang temen terbaik gue” jawabku
“ Ia loe cuman nganggep gue temen terbaik loe, tapi gue pengennya lebih bel” kata ikbal di dalam hatinya.
“ Ayo buruan malah bengong”ajakku
Kami pun sudah nyampe di rumahku, tapi iqbal gak mampir dulu ke rumahku dia langsung pulang. Didalam rumah mamah sudah menungguku untuk mengajak makan siang bersama, beliau sudah menyiapkan makanan kesukaanku. Aku langsung ganti baju lalu bergabung di meja makan yang sudah ada adik-adikku, ayahku gak ada dia masih kerja pulangnya sore. Kamipun makan dengan lahap.
Dari luar rumah kedengeran ada yang memanggilku, ternyata dia iqbal ngajak aku main ke tempat biasa kita nongkrong bareng yang lain.
“ Hai bella” iqbal menyapaku
“ tunggu bentar aku ganti baju dulu bal” jawabku sambil masuk lagi ke dalam
“ bel sebenarnya aku pengen ngajak kamu ke suatu tempat yang menyenangkan karena aku menyukaimu tapi sayangnya kamu sudah ada yang punya” kata iqbal dalam hatinya
“maaf yach aku lama ganti bajunya” kataku
“ia gak apa-apa, ayo kita pergi” ajaknya
Setibanya di tempat biasa kita nongkrong, sudah banyak orang yang lagi asyik ngobrol dengan temannya masing-masing. Akupun menemui teman cewekku namanya cika, dia temen sebangkuku orangnya sangat baik dan menyenangkan, dia juga naksir sama iqbal tapi gak berani ngungkapinnya. Sedangkan iqbal menemui temen-temenya yang lain.
“ hai cik” akupun menyapanya
“ hai bel” cika balik nyapa
“ loe udah lama di sini cik” kataku
“ gak baru bentar, kok loe bareng ikabal ke sininya bel” tanya cika
“ ia, emangnya kenapa?” jawabku
“ gak kenapa – kenapa, emangnya ilham kemana gak bareng loe?” tanya cika
“ eum bilang aja loe cemburu gue bareng iqbal, ilham lagi ada tugas di kampusnya jadi gak bisa maen ke sini” jawabku
“ oh loe bisa saja, gue gak cemburu kok sama loe” kata cika
“ besok di sekolah ada tugas sama ulangan gak, cik?” tanyaku
“ kalau gak salah, gak ada bel” jawabnya
“ syukurlah kalau gak ada , gue lagi males belajar hari ini” kataku
“ eum emang tiap hari loe males belajar kalau gak di suruh sama ilham, tadi pagi juga kamu ngerjain PR di sekolah nyontek lagi yach sama iqbal” katanya
“ he he he” aku cuman tersenyum
Dari kejauhan iqbal memanggilku dia mengajakku pulang karena sudah sore sebentar lagi mau adzan maghrib, akupun berpamitan sama cika dan cikapun sebentar lagi mau pulang katanya. Akupun menghampiri iqbal yang lagi nungguin aku, kita pun langsung pulang tanpa kemana-mana dulu. Di depan rumah, mamahku sudah menunggu karena sudah sore banget aku baru pulang, aku terus diomelin tapi aku tidak menghiraukannya kemudian mamahku juga berhenti mengomel.
Keesokan harinya ketika aku sedang berjalan menuju gerbang sekolah mau pulang, tiba - tiba ilham mengagetkanku ternyata dia menjemputku, tetapi baru hari ini aku merasa aneh kenapa aku gak bahagia di jemput sama ilham malah berharap sekarang aku bisa pulang bersama iqbal. Ya allah apa yang sudah terjadi kepadaku, apa aku mulai menyukai iqbal akh itu gak mungkin tidak tidak aku hanya menganggap iqbal sahabat terbaikku saja.
“ Hai bel” sapa ilham tiba-tiba
“ eh kamu kirain siapa?”jawabku
“ emang nya kamu ngarepin nya siapa?” tanyanya
“ gak ngarepin siapa-siapa, di kiranya kamu masih sibuk ngerjain tugas kampus”
Jawabku
“ oh masalah itu sudah beres kok tugasnya, sorry yach kemarin aku gak bisa jemput kamu” katanya
“ gak apa-apa, aku kemarin pulang bareng sama iqbal” kataku
“ baguslah kalau kemarin kamu ada yang nganterin pulangnya” jawabku
Iqbalpun datang menghampiri kita berdua, dia cuman nyapa kita berdua terus dia pun pergi tanpa berkata apa-apa. Keliatannya dia lagi buru – buru, jadi gak sempat berbincang – bincang dulu sama kami.
“ itu iqbal buru – buru mau kemana” tanya ilham
“ gak tahu kayak nya ada keperluan, jadi harus buru – buru” jawabku
“ oh gitu iqbal itu sangat baik banget yach sama kamu “ kata ilham
“ ya iyalah dia baik karena aku sudah temenan dengan dia dari kecil” jawabku
“ tapi keliatannya dia itu suka sama kamu bel “ kata ilham
“ apa sich, gak mungkin dia cuman nganggep aku teman terbaiknya doanx” jawabku
“ ia kamu nya aja yang gak ngerasa, tapi aku bisa ngerasain dan melihat kalau dia itu suka sama kamu liat saja sikap dan perhatiannya sama kamu itu penuh dengan kasih sayang” kata ilham
“ udahlah itu cuman persaan kamu saja yang cemburu sama iqbal” jawabku
Ketika ilham bilang kalau iqbal itu suka sama aku perasaanku jadi tak menentu, hatiku mendadak dag dig dug tidak seperti biasanya. Apa benar yang di katakan ilham bahwa iqbal suka sama aku, akh itu gak mungkin itu cuman perasaan ilham saja.
“ ekh malah bengong lagi mikirin apa” ilham mengagetkanku
“ eum gak mikirin apa-apa, cuman lagi berpikir kalau sebaiknya kamu itu harus lebih jauh mengenal iqbal biar kamu gak cemburu terus” kataku
“ aku itu gak cemburu, cuman yang aku katakan itu semuanya benar” jawab ilham
“ udahlah, emang iqbal orangnya baik dan asyik, seru kalau berteman dengan dia walaupun kadang – kadang suka nyebelin juga” kataku
“ tuch kan kamu terus saja muji dia, emangnya gak bosen sedikit – sedikit kalau kita bertemu pasti saja selalu ngomongin dia” jawab ilham
“ apa sich kamu sensitif banget, kamunya yang duluan ngomongin iqbal” kataku
“ bukannya gitu, tapi emangnya gak bosen tiap harikita bertemu ngomongin iqbal terus, seharusnya kita itu ngomongin tentang hubungan kita” jawab ilham
“ ia sudah kita ngomongin yang lain saja, sorry kalau aku sudah menyakiti perasaanmu” kataku
“ ia udah lain kali jangan di ulangi lagi, sekarang kita mau kemana?” jawab ilham
“ kita pulang saja, aku pengen cepet istirahat capek tadi habis ada pelajaran olahraga” kataku
“ ia udah kalau gitu kita pulang” ajak ilham
Kita pun pulang, saat di perjalan pulang ke rumah kami tidak banyak bicara malah pada diam seribu bahasa. Sesampainya aku di rumah akupun turun dari motor, lalu aku mengajak iqbal mampir dulu ke rumah.
“ kita udah nyampe bel” kata ilham
“ oh ia makasih yach sudah nganterin aku pulang” jawabku
“ ia sama – sama itu sudah jadi tanggung jawab aku sebagai cowok kamu” kata ilham
“ ayo mampir dulu ke dalam, ketemu orangtuaku mereka nanyain kamu terus katanya sekarang kamu jarang main ke rumah” kataku
“ lain kali saja, aku ketemu orangtua kamu salamin aja pada mereka, sekarang aku belum sempet main ke rumahmu lagi karena sibuk” jawabnya
“ ia udah kalau gitu” kataku
“ aku pamit pulang dulu yach sampai ketemu besok” pamit ilham
“ ok hati – hati di jalan” kataku
Ketika aku sedang membantu ibu di dapur nyuci piring habis makan malam, tiba – tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumahku, lalu akupun membuka pintu dan ternyata itu iqbal. Tiba – tiba hatiku dag dig dug ketika melihat iqbal ada di hadapanku, akupun sangat senang saat melihat iqbal datang ke rumahku.
“ lagi sibuk bel” tanya iqbal
“ gue cuma lagi bantu ibu nyuci piring” sahutku
“ oh gue pikir gak lagi sibuk” jawab iqbal
“ emangnya ada apa?” kataku
“ ngga, tadinya gue mau ajak loe keluar, tapi ya udahlah lain kali aja bisa kan?” pinta iqbal
“ ngga apa – apa sekarang juga udah beres kok” kataku
“ oh baguslah kalau begitu” jawab ilham
“ emangnya kita mau kemana?” tanyaku
“ gue mau nunjukin sesuatu sama loe” jawab iqbal sambil tersenyum
“ mau nunjukin apa?” tanyaku penasaran
“ nanti juga loe tahu bel, ya udah kita berangkat yuk” ajak iqbal
Kami pun bergegas pergi dari rumahku, di jalan aku bertanya – tanya sebenarnya iqbal mau ajak aku kemana tidak seperti biasanya malem – malem gini dia ngajak aku keluar dan mau nunjukin sesuatu apa yach jadi bingung. Iqbal bilang tempatnya sedikit jauh jadi aku bersabar, aku semakin penasaran saja apa yang mau iqbal tunjukin ke aku. Beberapa saat kemudian iqbalpun berhenti di suatu tempat sebelumnya kami belum pernah datang ke tempat ini, tempatnya itu tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi.
“ kita kok berhenti disini bal” tanyaku bingung
“ ia emang ini tempatnya” jawab iqbal
“ terus apa yang mau loe tunjukin ke gue” tanyaku lagi
“ ia sudah tapi kamu jangan marah yach, soalnya aku sudah lama mempersiapkan ini semuanya cuman nunggu waktu yang tempat saja mudah – mudahan ini adalah waktu yang tepat buat aku jujur” jawab iqbal
“ ada apa sich ngomongnya mulai aku kamu dan mau jujur apa? makin penasaran aja” sahutku
“ bentar, tunggu dulu sebentar disini yach” jawab iqbal
Lalu iqbal berjalan entah mau kemana, aku di suruh nunggu semakin penasaran saja apa yang mau iqbal tunjukin ke aku, gak terlalu jauh iqbal melambaikan tangannya menyuruhku menghampirinya entah apa yang sedang dia lakukan di sana, semakin membuatku penasaran saja. Setelah aku samapai disana, ternyata iqbal menunjukan kunang – kunang yang berada di tepian danau itu sangat indah banget tapi aku terkejut di pingir danau ada lilin – lilin yang bernyala yang membentuk kata I love you, aku sangat kaget dan tidak menyangka kalau iqbal akan menyatakan perasaannya padaku.
“ bel, aku sangat cinta dan sayang sama kamu, tapi kamu udah punya pacar” sahut iqbal
“ loe nembak gue bal” tanyaku serius
“ ia bel, maaf aku memendam semua perasaanku selama ini karena aku gak bisa jujur karena kamu udah punya cowok” jawab iqbal
“ sudah lama loe memendam semua ini ke gue” tanyaku lagi
“ ia bel sudah cukup lama, dan aku baru berani mengatakannya sekarang karena aku sudah gak tahan melihat kamu berdua terus sama ilham, apalagi tadi siang di gerbang sekolah hatiku merasa sakit bel melihat kalian berdua ngobrol” jawab iqbal
“ kenapa gak dari dulu bilangnya bal? Sebelum gue jadian sama ilham” tanyaku
“ aku cuman takut kamu akan menolakku dan merusak persahabatan yang sudah kita bangun dari kecil bel, makanya selama ini aku pendam perasaan ini” sahut iqbal
“ jujur saja aku juga mulai menyukai kamu lebih dari sekedar sahabat bal, ketika kita pulang bareng waktu itu. Hatiku mulai aneh berdebar dag dig dug ketika dekat denganmu” jawabku mengakui
“ jadi gimana bel hubungan kita sekarang” tanya iqbal sangat serius
“ gimana yach aku juga jadi bingung, kamu telat bal aku sekarang sudah sama ilham, aku juga gak ingin membuat ilham kecewa kepadaku” jawabku
“ bener bel aku telat mengatakan ini semua, tapi sekarang aku lega sudah mengungkapkan perasaanku yang selama ini aku pendam. Terus kita bagaimana sekarang?” tanya iqbal lagi
“ ia sekarang kita sudah tahu tentang perasaan kita masing – masing, tapi kita gak bisa jadi sepasang kekasih, kita masih jadi sahabat terbaik saja seperti biasanya” jawabku
“ ia bel aku gak mau kehilanganmu, gak apa – apa sekarang kita bersahabat dulu ke depannya gak tahu apa yang akan terjadi sama kita” kata iqbal
“ makasih ia bal, kamu sudah mau ngertiin situasi aku” jawabku
“ ia bel sama – sama” kata iqbal
Malam itu aku dan iqbal pun sangat bahagia, karena aku tidak menyangka kalau iqbal akan menyatakan perasaanya kepadaku, tapi di sisi lain aku pun bingung dengan ilham karena aku juga menyukai dia. Tapi iqbal orang nya sangat pengerti dia pun bisa menerima ini semua kami masih jadi sahabat terbaik, malem itu pun kami pulang dengan hati berbunga – bunga.
Keesokan harinya di sekolah aku menceritakan kejadian waktu malem itu ke cika, walaupun aku tahu kalau cika itu menyukai iqbal juga tapi aku bingung harus menceritakan ini semua kepada siapa lagi karena cuman cika sahabat terbaikku dan yang bisa menjaga rahasiaku.
“ cik gue mau curhat nich” kataku
“ emangnya mau curhat apa? Kayanya serius dech” tanya cika
“ ia tapi loe jangan marah yach?” jawabku
“ kenapa gue harus marah? makin panasaran saja” tanya cika
“ semalem iqbal nembak gue” jawabku
“ apa?” kata cika kaget
“ ia gue juga tahu, loe suka sama iqbal tapi gue bingung harus curhat kepada siapa lagi selain loe, cik” kataku
“ ia gak apa – apa curhat aja, sebenarnya gue sudah tahu dari dulu kalau iqbal itu menyukai loe, bel” jawab cika
“ masa sich cik, sekarang gue harus bagaimana yach cik?” tanyaku
“ bagaimana dengan perasaanmu sekarang” tanya cika balik
“ gue juga bingung cik, gue suka sama ilham tapi belakangan ini gue juga suka sama iqbal.” Jawabku
“ kalau gini jadi bingung ngasih solusinya juga, ia sudahlah sekarang loe ikutin aja apa isi hati loe, bel” kata cika
“ makasih cik atas sarannya, loe emang sahabat terbaikku” kataku
“ ia sama – sama, kita sebagai sahabat harus saling membantu” jawab cika
“ sekali lagi makasih banget, cik” kataku
Guru pun masuk, kami memulai pelajaran dengan khidmat karena sekarang pelajaran sejarah gurunya sangat galak, jadi semua murid takut semuanya pada diam mendengarkan apa yang lagi di terangkan sang guru.
Bel sekolah berbunyi waktunya pulang hari ini aku gak di jemput sama ilham katanya ada acara. Aku di minta cika untuk mengantarnya ke toko buku, kita pergi naik angkutan umum. Di perjalanan kita melihat ilham lagi jalan sama cewek, gak tahu siapa cewek itu aku baru lihat. Hati ini merasa terbakar melihat ilham pegangan tangan sangat mesra dengan cewek itu, kita pun menghampiri mereka ilham sangat kaget melihat kita ada di sana.
“ hai ilham, cewek ini siapa” sapa aku mengagetkannya
“ diii aaaaa” jawab ilham sambil terbata – bata
“ ini siapa sayang” kata cewek itu sama ilham
“ apa dia memangilmu sayang, sebenarnya dia siapa?” kataku agak berteriak
“ aku pacarnya, dan kamu siapa?” timbal cewek itu lagi
“ apa kamu pacarnya, dari kapan kalian berpacaran” kataku agak marah
“ kami baru aja jadian, kira – kira baru 1 bulanan” jawab wanita itu lagi
“ ternyata selama ini kamu ada tugas kampus, ada acara bilangnya. Ini yang kamu lakukan di belakangku selingkuh dengan cewek lain.” Kataku
“ dengarkan aku dulu bel”
“ sudahlah gak ada yang harus di jelasin lagi” kataku sambil pergi
Aku dan cika langsung meninggalkan ilham dan cewek itu, dari tadi cika tidak bicara sedikitpun, hanya cewek itu saja yang bicara. Ilham mencoba mengejarku tapi aku dan cika langsung naik taxi gak menghiraukan teriakan ilham yang memanggilku. Aku meminta maaf kepada cika karena gak jadi mengantar ke toko bukunya, keburu aku melihat ilham dan cewek itu. Selama di perjalanan pulang aku menagis cika mencoba menghiburku, supaya aku tidak berlarut – larut dalam kesedihan.
Aku tiba di rumah, aku turun dari taxi pamitan sama cika. Tadinya cika mau menemaniku dulu tapi aku menyuruhnya pulang, aku langsung masuk kamar gak pengen ketahuan habis nangis oleh mamah yang lagi asyik nonton tv. Aku menghubungi iqbal dan menceritakan yang terjadi tadi siang, iqbal pun kaget dan mencoba untuk menghiburku dan dia juga mengajak aku ke luar nanti malam untuk menghiburku, tapi aku menolaknya karena aku pengen sendiri dulu tak ingin kemana - mana.
Keesekon harinya aku sekolah seperti biasanya, iqbal dan cika selalu ada di sampingku untuk menghiburku takutnya aku melakukan sesuatu yang dapat merugikanku mereka emang teman terbaikku selalu ada di waktu aku senang dan susah. Mereka selalu bertanya terus tentang ilham tapi aku gak mau membahasnya dulu, pelajaran di mulai kami pun belajar semesti biasanya.
Pulang sekolah di luar gerbang sekolah ilham sudah ada menungguku, aku berusaha mencoba untuk menghindari ilham tapi aku ketahuan, ilham menghampiriku. Aku terus berlari tapi ilham mengejar dan menghentikanku, aku pun berhenti.
“ bel tunggu aku, dengerin dulu penjelasanku” kata ilham
“ apalagi sich yang harus di jelaskan semuanya sudah jelas” jawabku
“ kemarin yang kamu lihat itu sebenarnya......” kata ilham kemudian diam
“ sebenarnya apa?” tanyaku lagi
“ sebenarnya dia itu cuman teman kampus aku, yang menyukaiku tapi aku gak balik menyukainya cuman kemarin - kemarin aku lagi kesal sama kamu, soalnya kamu terus membicarakan dan memuji iqbal setiap kita bertemu, terus dia ngajak jalan aku mengiakannya jadi kita jalan bareng dech” ilham menjelaskan panjang lembar
“ tapi gak kini caranya, untuk membalasanya kekanakan banget” kataku simpel
“ ia jadi maafin aku, kemarin aku khilaf” jawab ilham
“ ia aku maafin, tapi hubungan kita berakhir sampai di sini saja” kataku
“ maksudnya kita putus” tanya ilham
“ ia kita putus saja, mungkin kita sudah tidak cocok” jawabku sambil meninggalkan ilham
“ bella tunggu kita gak boleh putus kita bisa bicarain ini semua dengan baik - baik” teriak ilham
“ gak ada yang harus dibicarakan lagi, sudah cukup sampai disini” teriakku lagi
Aku tak menghiraukan teriakan ilham, aku terus berjalan menjauhi ilham akhirnya hubunganku dengan ilham berakhir walaupun hati ini sakit, tapi kalau di biarin berlanjut takut saling menyakiti terus. Makanya ini adalah keputusan yang terbaik untuk mengakhiri hubungan ini. Setibanya di rumah aku langsung menelpon iqbal dan cika menceritakan kalau aku dan ilham sudah putus, mereka kaget mendengar keputusanku.
Satu bulan sudah berlalu, awalnya ilham terus saja mengajak balikan lagi tapi aku terus menolaknya karena sudah terlajur sakit hati. Tapi akhirnya ilham mengalah kita jadi sahabat saja. Selama itu juga iqbal selalu menghiburku dan mengatakan perasaannya terus, tapi aku belum bisa menerimanya walaupun sudah tidak ada penghalangnya tapi aku pengen menyembuhkan luka di hati ini.
Akhir pekan pun tiba, iqbal mengajakku main ke suatu tempat yang belum pernah kami kunjungi. Sore itu pun aku pergi sama iqbal naik motor, selama perjalanan kami diam hanya menikmati suasana perjalanan yang segar setibanya disana kami pun turun dari motor.
“akhirnya kita tiba juga disini” kata iqbal
“ ia emang tempatnya menyenangkan banget” jawabku
“ ia disini aku pengen ngomong sesuatu” kata iqbal
“ ngomongin apa lagi?” tanyaku
“ masalah kita bel, aku gak mau nunggu terlalu lama sekarang kamu dan ilham sudah putus jadi sudah gak ada penghalang lagi untuk kita bisa bersatu” jawab iqbal
“ tapiiii” belum selesai berkata iqbal sudah memotong ucapanku
“ untuk sekarang tidak ada kata tapi, kamu itu harus segera move on jangan takut masalah kemarin akan terulang kembali, aku akan menyayangimu sepenuh hatiku tanpa ada pengkhianatan” kata iqbal
“ aku masih bingung harus bagaimana?” kataku
“ kamu jangan bingung – bingung, lupakanlah masa lalu mari kita bangun kembali semuanya dari awal.” Kata iqbal
“ oklah kalau begitu kita mulai semuanya dari awal, jadi sekarang kita syah jadi sepasang kekasih” kataku
“ nah kaya gini semangat aku senang mendegar ini semua” kata iqbal
“ iya bal, aku gak mau kehilangan kamu” kataku
“ makasih ya bel, aku akan jagain kamu semampuku” sahut iqbal sambil memelukku
“ ia bal sama – sama” kataku
Akhir pekan ini membuatku dan iqbal sangat bahagia, karena aku tidak menyangka bisa jadian sama iqbal. Diapun berjanji akan tetap menjagaku seperti dulu dan tidak akan meninggalkanku, aku terharu dia mencintaiku dengan begitu tulus. Tapi semua ketulusan cinta ini gak akan ku sia – siakan, akan ku jaga sampai akhir hayat nanti.
Keesekon harinya seperti biasanya ku ceritakan kejadian semalam pada cika, cika pun bahagia walaupun sebenarnya pasti dia sakit hati. Aku pun memberitahukan hubungan ku sama keluargaku mereka sangat menyetujuinya karena mereka sudah kenal jauh sama keluarga iqbal juga, gak ketinggalan akupun menceritakannya pada ilham walau pertamanya ilham kaget dan gak setuju dengan hubunganku ini. Tapi akhirnya dia menyadarinya bahwa dia sudah tidak ada hak lagi dan merestuinya. Akhirnya kami bisa menjalani hidup ini dengan bahagia bersama iqbal , temanku dan keluargaku.
“ Ikbal tunggu, bareng yuk pulangnya” kataku kepada iqbal
“ ayo emang loe nga di jemput bel sama cowok loe” jawab iqbal
“ gak dia lagi ada tugas di kampusnya jadi gak bisa jemput gue hari ini, gue bareng loe yach” ucapku
“ Ayo, kita kan tetanggaan jadi pulangnya searah, ayo naek”ajak iqbal
“ ok thanx yach bal, loe emang temen terbaik gue” jawabku
“ Ia loe cuman nganggep gue temen terbaik loe, tapi gue pengennya lebih bel” kata ikbal di dalam hatinya.
“ Ayo buruan malah bengong”ajakku
Kami pun sudah nyampe di rumahku, tapi iqbal gak mampir dulu ke rumahku dia langsung pulang. Didalam rumah mamah sudah menungguku untuk mengajak makan siang bersama, beliau sudah menyiapkan makanan kesukaanku. Aku langsung ganti baju lalu bergabung di meja makan yang sudah ada adik-adikku, ayahku gak ada dia masih kerja pulangnya sore. Kamipun makan dengan lahap.
Dari luar rumah kedengeran ada yang memanggilku, ternyata dia iqbal ngajak aku main ke tempat biasa kita nongkrong bareng yang lain.
“ Hai bella” iqbal menyapaku
“ tunggu bentar aku ganti baju dulu bal” jawabku sambil masuk lagi ke dalam
“ bel sebenarnya aku pengen ngajak kamu ke suatu tempat yang menyenangkan karena aku menyukaimu tapi sayangnya kamu sudah ada yang punya” kata iqbal dalam hatinya
“maaf yach aku lama ganti bajunya” kataku
“ia gak apa-apa, ayo kita pergi” ajaknya
Setibanya di tempat biasa kita nongkrong, sudah banyak orang yang lagi asyik ngobrol dengan temannya masing-masing. Akupun menemui teman cewekku namanya cika, dia temen sebangkuku orangnya sangat baik dan menyenangkan, dia juga naksir sama iqbal tapi gak berani ngungkapinnya. Sedangkan iqbal menemui temen-temenya yang lain.
“ hai cik” akupun menyapanya
“ hai bel” cika balik nyapa
“ loe udah lama di sini cik” kataku
“ gak baru bentar, kok loe bareng ikabal ke sininya bel” tanya cika
“ ia, emangnya kenapa?” jawabku
“ gak kenapa – kenapa, emangnya ilham kemana gak bareng loe?” tanya cika
“ eum bilang aja loe cemburu gue bareng iqbal, ilham lagi ada tugas di kampusnya jadi gak bisa maen ke sini” jawabku
“ oh loe bisa saja, gue gak cemburu kok sama loe” kata cika
“ besok di sekolah ada tugas sama ulangan gak, cik?” tanyaku
“ kalau gak salah, gak ada bel” jawabnya
“ syukurlah kalau gak ada , gue lagi males belajar hari ini” kataku
“ eum emang tiap hari loe males belajar kalau gak di suruh sama ilham, tadi pagi juga kamu ngerjain PR di sekolah nyontek lagi yach sama iqbal” katanya
“ he he he” aku cuman tersenyum
Dari kejauhan iqbal memanggilku dia mengajakku pulang karena sudah sore sebentar lagi mau adzan maghrib, akupun berpamitan sama cika dan cikapun sebentar lagi mau pulang katanya. Akupun menghampiri iqbal yang lagi nungguin aku, kita pun langsung pulang tanpa kemana-mana dulu. Di depan rumah, mamahku sudah menunggu karena sudah sore banget aku baru pulang, aku terus diomelin tapi aku tidak menghiraukannya kemudian mamahku juga berhenti mengomel.
Keesokan harinya ketika aku sedang berjalan menuju gerbang sekolah mau pulang, tiba - tiba ilham mengagetkanku ternyata dia menjemputku, tetapi baru hari ini aku merasa aneh kenapa aku gak bahagia di jemput sama ilham malah berharap sekarang aku bisa pulang bersama iqbal. Ya allah apa yang sudah terjadi kepadaku, apa aku mulai menyukai iqbal akh itu gak mungkin tidak tidak aku hanya menganggap iqbal sahabat terbaikku saja.
“ Hai bel” sapa ilham tiba-tiba
“ eh kamu kirain siapa?”jawabku
“ emang nya kamu ngarepin nya siapa?” tanyanya
“ gak ngarepin siapa-siapa, di kiranya kamu masih sibuk ngerjain tugas kampus”
Jawabku
“ oh masalah itu sudah beres kok tugasnya, sorry yach kemarin aku gak bisa jemput kamu” katanya
“ gak apa-apa, aku kemarin pulang bareng sama iqbal” kataku
“ baguslah kalau kemarin kamu ada yang nganterin pulangnya” jawabku
Iqbalpun datang menghampiri kita berdua, dia cuman nyapa kita berdua terus dia pun pergi tanpa berkata apa-apa. Keliatannya dia lagi buru – buru, jadi gak sempat berbincang – bincang dulu sama kami.
“ itu iqbal buru – buru mau kemana” tanya ilham
“ gak tahu kayak nya ada keperluan, jadi harus buru – buru” jawabku
“ oh gitu iqbal itu sangat baik banget yach sama kamu “ kata ilham
“ ya iyalah dia baik karena aku sudah temenan dengan dia dari kecil” jawabku
“ tapi keliatannya dia itu suka sama kamu bel “ kata ilham
“ apa sich, gak mungkin dia cuman nganggep aku teman terbaiknya doanx” jawabku
“ ia kamu nya aja yang gak ngerasa, tapi aku bisa ngerasain dan melihat kalau dia itu suka sama kamu liat saja sikap dan perhatiannya sama kamu itu penuh dengan kasih sayang” kata ilham
“ udahlah itu cuman persaan kamu saja yang cemburu sama iqbal” jawabku
Ketika ilham bilang kalau iqbal itu suka sama aku perasaanku jadi tak menentu, hatiku mendadak dag dig dug tidak seperti biasanya. Apa benar yang di katakan ilham bahwa iqbal suka sama aku, akh itu gak mungkin itu cuman perasaan ilham saja.
“ ekh malah bengong lagi mikirin apa” ilham mengagetkanku
“ eum gak mikirin apa-apa, cuman lagi berpikir kalau sebaiknya kamu itu harus lebih jauh mengenal iqbal biar kamu gak cemburu terus” kataku
“ aku itu gak cemburu, cuman yang aku katakan itu semuanya benar” jawab ilham
“ udahlah, emang iqbal orangnya baik dan asyik, seru kalau berteman dengan dia walaupun kadang – kadang suka nyebelin juga” kataku
“ tuch kan kamu terus saja muji dia, emangnya gak bosen sedikit – sedikit kalau kita bertemu pasti saja selalu ngomongin dia” jawab ilham
“ apa sich kamu sensitif banget, kamunya yang duluan ngomongin iqbal” kataku
“ bukannya gitu, tapi emangnya gak bosen tiap harikita bertemu ngomongin iqbal terus, seharusnya kita itu ngomongin tentang hubungan kita” jawab ilham
“ ia sudah kita ngomongin yang lain saja, sorry kalau aku sudah menyakiti perasaanmu” kataku
“ ia udah lain kali jangan di ulangi lagi, sekarang kita mau kemana?” jawab ilham
“ kita pulang saja, aku pengen cepet istirahat capek tadi habis ada pelajaran olahraga” kataku
“ ia udah kalau gitu kita pulang” ajak ilham
Kita pun pulang, saat di perjalan pulang ke rumah kami tidak banyak bicara malah pada diam seribu bahasa. Sesampainya aku di rumah akupun turun dari motor, lalu aku mengajak iqbal mampir dulu ke rumah.
“ kita udah nyampe bel” kata ilham
“ oh ia makasih yach sudah nganterin aku pulang” jawabku
“ ia sama – sama itu sudah jadi tanggung jawab aku sebagai cowok kamu” kata ilham
“ ayo mampir dulu ke dalam, ketemu orangtuaku mereka nanyain kamu terus katanya sekarang kamu jarang main ke rumah” kataku
“ lain kali saja, aku ketemu orangtua kamu salamin aja pada mereka, sekarang aku belum sempet main ke rumahmu lagi karena sibuk” jawabnya
“ ia udah kalau gitu” kataku
“ aku pamit pulang dulu yach sampai ketemu besok” pamit ilham
“ ok hati – hati di jalan” kataku
Ketika aku sedang membantu ibu di dapur nyuci piring habis makan malam, tiba – tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumahku, lalu akupun membuka pintu dan ternyata itu iqbal. Tiba – tiba hatiku dag dig dug ketika melihat iqbal ada di hadapanku, akupun sangat senang saat melihat iqbal datang ke rumahku.
“ lagi sibuk bel” tanya iqbal
“ gue cuma lagi bantu ibu nyuci piring” sahutku
“ oh gue pikir gak lagi sibuk” jawab iqbal
“ emangnya ada apa?” kataku
“ ngga, tadinya gue mau ajak loe keluar, tapi ya udahlah lain kali aja bisa kan?” pinta iqbal
“ ngga apa – apa sekarang juga udah beres kok” kataku
“ oh baguslah kalau begitu” jawab ilham
“ emangnya kita mau kemana?” tanyaku
“ gue mau nunjukin sesuatu sama loe” jawab iqbal sambil tersenyum
“ mau nunjukin apa?” tanyaku penasaran
“ nanti juga loe tahu bel, ya udah kita berangkat yuk” ajak iqbal
Kami pun bergegas pergi dari rumahku, di jalan aku bertanya – tanya sebenarnya iqbal mau ajak aku kemana tidak seperti biasanya malem – malem gini dia ngajak aku keluar dan mau nunjukin sesuatu apa yach jadi bingung. Iqbal bilang tempatnya sedikit jauh jadi aku bersabar, aku semakin penasaran saja apa yang mau iqbal tunjukin ke aku. Beberapa saat kemudian iqbalpun berhenti di suatu tempat sebelumnya kami belum pernah datang ke tempat ini, tempatnya itu tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi.
“ kita kok berhenti disini bal” tanyaku bingung
“ ia emang ini tempatnya” jawab iqbal
“ terus apa yang mau loe tunjukin ke gue” tanyaku lagi
“ ia sudah tapi kamu jangan marah yach, soalnya aku sudah lama mempersiapkan ini semuanya cuman nunggu waktu yang tempat saja mudah – mudahan ini adalah waktu yang tepat buat aku jujur” jawab iqbal
“ ada apa sich ngomongnya mulai aku kamu dan mau jujur apa? makin penasaran aja” sahutku
“ bentar, tunggu dulu sebentar disini yach” jawab iqbal
Lalu iqbal berjalan entah mau kemana, aku di suruh nunggu semakin penasaran saja apa yang mau iqbal tunjukin ke aku, gak terlalu jauh iqbal melambaikan tangannya menyuruhku menghampirinya entah apa yang sedang dia lakukan di sana, semakin membuatku penasaran saja. Setelah aku samapai disana, ternyata iqbal menunjukan kunang – kunang yang berada di tepian danau itu sangat indah banget tapi aku terkejut di pingir danau ada lilin – lilin yang bernyala yang membentuk kata I love you, aku sangat kaget dan tidak menyangka kalau iqbal akan menyatakan perasaannya padaku.
“ bel, aku sangat cinta dan sayang sama kamu, tapi kamu udah punya pacar” sahut iqbal
“ loe nembak gue bal” tanyaku serius
“ ia bel, maaf aku memendam semua perasaanku selama ini karena aku gak bisa jujur karena kamu udah punya cowok” jawab iqbal
“ sudah lama loe memendam semua ini ke gue” tanyaku lagi
“ ia bel sudah cukup lama, dan aku baru berani mengatakannya sekarang karena aku sudah gak tahan melihat kamu berdua terus sama ilham, apalagi tadi siang di gerbang sekolah hatiku merasa sakit bel melihat kalian berdua ngobrol” jawab iqbal
“ kenapa gak dari dulu bilangnya bal? Sebelum gue jadian sama ilham” tanyaku
“ aku cuman takut kamu akan menolakku dan merusak persahabatan yang sudah kita bangun dari kecil bel, makanya selama ini aku pendam perasaan ini” sahut iqbal
“ jujur saja aku juga mulai menyukai kamu lebih dari sekedar sahabat bal, ketika kita pulang bareng waktu itu. Hatiku mulai aneh berdebar dag dig dug ketika dekat denganmu” jawabku mengakui
“ jadi gimana bel hubungan kita sekarang” tanya iqbal sangat serius
“ gimana yach aku juga jadi bingung, kamu telat bal aku sekarang sudah sama ilham, aku juga gak ingin membuat ilham kecewa kepadaku” jawabku
“ bener bel aku telat mengatakan ini semua, tapi sekarang aku lega sudah mengungkapkan perasaanku yang selama ini aku pendam. Terus kita bagaimana sekarang?” tanya iqbal lagi
“ ia sekarang kita sudah tahu tentang perasaan kita masing – masing, tapi kita gak bisa jadi sepasang kekasih, kita masih jadi sahabat terbaik saja seperti biasanya” jawabku
“ ia bel aku gak mau kehilanganmu, gak apa – apa sekarang kita bersahabat dulu ke depannya gak tahu apa yang akan terjadi sama kita” kata iqbal
“ makasih ia bal, kamu sudah mau ngertiin situasi aku” jawabku
“ ia bel sama – sama” kata iqbal
Malam itu aku dan iqbal pun sangat bahagia, karena aku tidak menyangka kalau iqbal akan menyatakan perasaanya kepadaku, tapi di sisi lain aku pun bingung dengan ilham karena aku juga menyukai dia. Tapi iqbal orang nya sangat pengerti dia pun bisa menerima ini semua kami masih jadi sahabat terbaik, malem itu pun kami pulang dengan hati berbunga – bunga.
Keesokan harinya di sekolah aku menceritakan kejadian waktu malem itu ke cika, walaupun aku tahu kalau cika itu menyukai iqbal juga tapi aku bingung harus menceritakan ini semua kepada siapa lagi karena cuman cika sahabat terbaikku dan yang bisa menjaga rahasiaku.
“ cik gue mau curhat nich” kataku
“ emangnya mau curhat apa? Kayanya serius dech” tanya cika
“ ia tapi loe jangan marah yach?” jawabku
“ kenapa gue harus marah? makin panasaran saja” tanya cika
“ semalem iqbal nembak gue” jawabku
“ apa?” kata cika kaget
“ ia gue juga tahu, loe suka sama iqbal tapi gue bingung harus curhat kepada siapa lagi selain loe, cik” kataku
“ ia gak apa – apa curhat aja, sebenarnya gue sudah tahu dari dulu kalau iqbal itu menyukai loe, bel” jawab cika
“ masa sich cik, sekarang gue harus bagaimana yach cik?” tanyaku
“ bagaimana dengan perasaanmu sekarang” tanya cika balik
“ gue juga bingung cik, gue suka sama ilham tapi belakangan ini gue juga suka sama iqbal.” Jawabku
“ kalau gini jadi bingung ngasih solusinya juga, ia sudahlah sekarang loe ikutin aja apa isi hati loe, bel” kata cika
“ makasih cik atas sarannya, loe emang sahabat terbaikku” kataku
“ ia sama – sama, kita sebagai sahabat harus saling membantu” jawab cika
“ sekali lagi makasih banget, cik” kataku
Guru pun masuk, kami memulai pelajaran dengan khidmat karena sekarang pelajaran sejarah gurunya sangat galak, jadi semua murid takut semuanya pada diam mendengarkan apa yang lagi di terangkan sang guru.
Bel sekolah berbunyi waktunya pulang hari ini aku gak di jemput sama ilham katanya ada acara. Aku di minta cika untuk mengantarnya ke toko buku, kita pergi naik angkutan umum. Di perjalanan kita melihat ilham lagi jalan sama cewek, gak tahu siapa cewek itu aku baru lihat. Hati ini merasa terbakar melihat ilham pegangan tangan sangat mesra dengan cewek itu, kita pun menghampiri mereka ilham sangat kaget melihat kita ada di sana.
“ hai ilham, cewek ini siapa” sapa aku mengagetkannya
“ diii aaaaa” jawab ilham sambil terbata – bata
“ ini siapa sayang” kata cewek itu sama ilham
“ apa dia memangilmu sayang, sebenarnya dia siapa?” kataku agak berteriak
“ aku pacarnya, dan kamu siapa?” timbal cewek itu lagi
“ apa kamu pacarnya, dari kapan kalian berpacaran” kataku agak marah
“ kami baru aja jadian, kira – kira baru 1 bulanan” jawab wanita itu lagi
“ ternyata selama ini kamu ada tugas kampus, ada acara bilangnya. Ini yang kamu lakukan di belakangku selingkuh dengan cewek lain.” Kataku
“ dengarkan aku dulu bel”
“ sudahlah gak ada yang harus di jelasin lagi” kataku sambil pergi
Aku dan cika langsung meninggalkan ilham dan cewek itu, dari tadi cika tidak bicara sedikitpun, hanya cewek itu saja yang bicara. Ilham mencoba mengejarku tapi aku dan cika langsung naik taxi gak menghiraukan teriakan ilham yang memanggilku. Aku meminta maaf kepada cika karena gak jadi mengantar ke toko bukunya, keburu aku melihat ilham dan cewek itu. Selama di perjalanan pulang aku menagis cika mencoba menghiburku, supaya aku tidak berlarut – larut dalam kesedihan.
Aku tiba di rumah, aku turun dari taxi pamitan sama cika. Tadinya cika mau menemaniku dulu tapi aku menyuruhnya pulang, aku langsung masuk kamar gak pengen ketahuan habis nangis oleh mamah yang lagi asyik nonton tv. Aku menghubungi iqbal dan menceritakan yang terjadi tadi siang, iqbal pun kaget dan mencoba untuk menghiburku dan dia juga mengajak aku ke luar nanti malam untuk menghiburku, tapi aku menolaknya karena aku pengen sendiri dulu tak ingin kemana - mana.
Keesekon harinya aku sekolah seperti biasanya, iqbal dan cika selalu ada di sampingku untuk menghiburku takutnya aku melakukan sesuatu yang dapat merugikanku mereka emang teman terbaikku selalu ada di waktu aku senang dan susah. Mereka selalu bertanya terus tentang ilham tapi aku gak mau membahasnya dulu, pelajaran di mulai kami pun belajar semesti biasanya.
Pulang sekolah di luar gerbang sekolah ilham sudah ada menungguku, aku berusaha mencoba untuk menghindari ilham tapi aku ketahuan, ilham menghampiriku. Aku terus berlari tapi ilham mengejar dan menghentikanku, aku pun berhenti.
“ bel tunggu aku, dengerin dulu penjelasanku” kata ilham
“ apalagi sich yang harus di jelaskan semuanya sudah jelas” jawabku
“ kemarin yang kamu lihat itu sebenarnya......” kata ilham kemudian diam
“ sebenarnya apa?” tanyaku lagi
“ sebenarnya dia itu cuman teman kampus aku, yang menyukaiku tapi aku gak balik menyukainya cuman kemarin - kemarin aku lagi kesal sama kamu, soalnya kamu terus membicarakan dan memuji iqbal setiap kita bertemu, terus dia ngajak jalan aku mengiakannya jadi kita jalan bareng dech” ilham menjelaskan panjang lembar
“ tapi gak kini caranya, untuk membalasanya kekanakan banget” kataku simpel
“ ia jadi maafin aku, kemarin aku khilaf” jawab ilham
“ ia aku maafin, tapi hubungan kita berakhir sampai di sini saja” kataku
“ maksudnya kita putus” tanya ilham
“ ia kita putus saja, mungkin kita sudah tidak cocok” jawabku sambil meninggalkan ilham
“ bella tunggu kita gak boleh putus kita bisa bicarain ini semua dengan baik - baik” teriak ilham
“ gak ada yang harus dibicarakan lagi, sudah cukup sampai disini” teriakku lagi
Aku tak menghiraukan teriakan ilham, aku terus berjalan menjauhi ilham akhirnya hubunganku dengan ilham berakhir walaupun hati ini sakit, tapi kalau di biarin berlanjut takut saling menyakiti terus. Makanya ini adalah keputusan yang terbaik untuk mengakhiri hubungan ini. Setibanya di rumah aku langsung menelpon iqbal dan cika menceritakan kalau aku dan ilham sudah putus, mereka kaget mendengar keputusanku.
Satu bulan sudah berlalu, awalnya ilham terus saja mengajak balikan lagi tapi aku terus menolaknya karena sudah terlajur sakit hati. Tapi akhirnya ilham mengalah kita jadi sahabat saja. Selama itu juga iqbal selalu menghiburku dan mengatakan perasaannya terus, tapi aku belum bisa menerimanya walaupun sudah tidak ada penghalangnya tapi aku pengen menyembuhkan luka di hati ini.
Akhir pekan pun tiba, iqbal mengajakku main ke suatu tempat yang belum pernah kami kunjungi. Sore itu pun aku pergi sama iqbal naik motor, selama perjalanan kami diam hanya menikmati suasana perjalanan yang segar setibanya disana kami pun turun dari motor.
“akhirnya kita tiba juga disini” kata iqbal
“ ia emang tempatnya menyenangkan banget” jawabku
“ ia disini aku pengen ngomong sesuatu” kata iqbal
“ ngomongin apa lagi?” tanyaku
“ masalah kita bel, aku gak mau nunggu terlalu lama sekarang kamu dan ilham sudah putus jadi sudah gak ada penghalang lagi untuk kita bisa bersatu” jawab iqbal
“ tapiiii” belum selesai berkata iqbal sudah memotong ucapanku
“ untuk sekarang tidak ada kata tapi, kamu itu harus segera move on jangan takut masalah kemarin akan terulang kembali, aku akan menyayangimu sepenuh hatiku tanpa ada pengkhianatan” kata iqbal
“ aku masih bingung harus bagaimana?” kataku
“ kamu jangan bingung – bingung, lupakanlah masa lalu mari kita bangun kembali semuanya dari awal.” Kata iqbal
“ oklah kalau begitu kita mulai semuanya dari awal, jadi sekarang kita syah jadi sepasang kekasih” kataku
“ nah kaya gini semangat aku senang mendegar ini semua” kata iqbal
“ iya bal, aku gak mau kehilangan kamu” kataku
“ makasih ya bel, aku akan jagain kamu semampuku” sahut iqbal sambil memelukku
“ ia bal sama – sama” kataku
Akhir pekan ini membuatku dan iqbal sangat bahagia, karena aku tidak menyangka bisa jadian sama iqbal. Diapun berjanji akan tetap menjagaku seperti dulu dan tidak akan meninggalkanku, aku terharu dia mencintaiku dengan begitu tulus. Tapi semua ketulusan cinta ini gak akan ku sia – siakan, akan ku jaga sampai akhir hayat nanti.
Keesekon harinya seperti biasanya ku ceritakan kejadian semalam pada cika, cika pun bahagia walaupun sebenarnya pasti dia sakit hati. Aku pun memberitahukan hubungan ku sama keluargaku mereka sangat menyetujuinya karena mereka sudah kenal jauh sama keluarga iqbal juga, gak ketinggalan akupun menceritakannya pada ilham walau pertamanya ilham kaget dan gak setuju dengan hubunganku ini. Tapi akhirnya dia menyadarinya bahwa dia sudah tidak ada hak lagi dan merestuinya. Akhirnya kami bisa menjalani hidup ini dengan bahagia bersama iqbal , temanku dan keluargaku.
PROFIL PENULIS
Nama : Raswati Dini Rahayu
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Add facebook : Rhaezdint Ayu
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Add facebook : Rhaezdint Ayu
Sumber : lokerseni.web.id
SAHABAT JADI CINTA
TEMAN PERTAMA DI HIDUPKU
Karya Sri Ayu
Aku hanya tertududuk terdiam menundukan kepalaku, ya... seperti ini lah kehidupanku disekolah yang menurutku sangat kejam ini. Bagaimana tidak ? semua anak membenciku karna aku seorang putri yang profesi orang tuaku adalah seorang penjual susu kaleng keliling yang memaksakan diri bersekolah disekolahan elit seperti ini, jika tidak karena beasiswa yang kudapat mungkin aku sudah melawan perbuatan mereka yang menurutku sudah di luar batas peri kemanusiaan.
***
Bel istirahat berbunyi semua anak berhamburan keluar terkecuali hanya aku yang tersisa diruangan yang bagaikan neraka ini, aku terduduk menunduk seluruh wajahku tertutup oleh rambut hitam panjangku. Cukup lama aku terdiam disini hingga pada saatnya aku merasa bosan, akhirnya aku putuskan untuk melangkah pergi keluar kelas.
***
Bel istirahat berbunyi semua anak berhamburan keluar terkecuali hanya aku yang tersisa diruangan yang bagaikan neraka ini, aku terduduk menunduk seluruh wajahku tertutup oleh rambut hitam panjangku. Cukup lama aku terdiam disini hingga pada saatnya aku merasa bosan, akhirnya aku putuskan untuk melangkah pergi keluar kelas.
![]() |
| Teman Pertama Di Hidupku |
Dengan berjalan menunduk menyusuri trotoar kelas dan bertemu dengan para mulut kejam yang tak salah lagi sedang membicarakanku, aku tidak peduli aku tetap melanjutkan langkahku. Sampai suatu saat sesuatu mengenai kepalaku, benda itu terjatuh di bawah tepatnya dihadapan kakiku, ternyata itu hanya botol air mineral yang tak berisi, aku memungut botol itu dan memasukannya kedalam ember sampah yang berada disampingku. Saat hendak memasukkan botol itu semua anak melempariku dengan tepung dan juga telur aku hanya terdiam menunduk pasrah menerima perlakuan mereka.
Semua anak menghampiriku, salah satu dari mereka mendorong tubuhku hingga aku terjatuh ke lantai.
"bangunlah.... ayo bangun anak miskin!" ucap seorang murid pria yang mendorongku tadi
Aku hanya bisa menangis menunduk, semua anak memukuliku hingga seluruh wajahku memar.
Tak berseling lama tiba-tiba seseorang datang yang tak lain itu adalah ibu kim, guru wali kelasku.
"Hentikan semuanya!!!" teriak ibu Kim,
Sesaat semua murid yang mengelilingiku terkejut dan spontan berlari berhamburan memasuki ruangan kelasnya masing-masing.
Ibu Kim secepat mungkin mendekatiku dan membantuku berdiri, "Kau tak apa Melati ?" tanya ibu Kim lembut
"Tidak bu, aku baik-baik saja" jawabku menunduk
"Lebih baik kau obati dulu lukamu, dan ibu akan meminta seragam baru untukmu" tutur ibu Kim
"Tidak bu tidak usah, aku baik-baik saja, terima kasih" kataku
"Baiklah, kau akan diijinkan pulang sekarang, ibu yang akan bertanggung jawab"
Oh sungguh ini tak begitu buruk untukku, akhirnya aku bisa pulang lebih cepat juga mimpi aapa aku semalam sampai bisa beruntung seperti ini.
Aku mengangkat wajahku kulihat disebelah ibu Kim berdiri seorang anak pria berpakaian seragam dan tersenyum padaku, jelas saja dia bukan siswa sekolah ini aku pun baru melihatnya.
Ibu Kim berkata jika ia pun akan memasuki ruangan kelasku untuk mengenalkan murid baru, aku berjalan mengikuti ibu Kim tepatnya dibelakang murid pria baru itu
Sesampainya diruang kelas aku segera menuju tempat dudukku dan mengambil tas milikku, semua anak memandangku sinis meski aku tidak melihatnya langsung karna aku menundukan kepalaku ketika berjalan tapi aku bisa merasakannya.
***
Pagi yang begitu cerah, membuat bahagia siapapun orangnya yang melihat keindahannya, angin pagi berhembus kencang menerpa tubuhku. Langkah demi langkah aku tapaki hingga sampailah kedepan gerbang sekolahku.
Aku memasuki ruang kelasku, terlihat disana beberapa orang anak memandangku dengan sinis bahkan ketika aku melewati mereka, mereka menghalang jalanku dan mendorong tubuhku hingga terjatuh. hanya tawa kesenangan yang mereka dapatkan.
Tiba-tiba seseorang mengulurkan tangannya padaku, aku secepat mungkin memastikan orang itu, ternyata itu adalah murid baru yang kemarin aku bertemu dengannya.
"ayolah... bangun.." ucap pria itu yang akupun tak mengenalnya
Sontak semua anak merasa heran dan bingung,
"Fandy! apa yang sedang kau lakukan?" tanya seorang murid laki-laki padanya
tapi dia tak menghiraukannya
Aku tak menerima uluran tangan miliknya, aku berfikir dia pun pasti sama seperti anak-anak lain, akhirnya aku pergi berlari keluar kelas.
Aku menangis dibawah pohon ditaman, aku tak peduli bel pelajaran sekolah dimulai. Hatiku hancur kenapa juga aku harus dilahirkan oleh sepasang keluarga penjual susu kaleng keliling? kenapa aku tidak seperti mereka? tuhan tak adil!.
Sampai sekolah sepi ditinggalkan oleh penghuninya, aku masih tetap berada dibawah pohon itu terduduk dengan kaki menegak menompang tangan dan daguku pandanganku sayu kedepan.
Tiba-tiba seseorang memegang pundakku, aku menoleh
"kau..." ucapku
"yah ini aku, apa aku boleh duduk disampingmu ?" tanya pria itu
"Untuk apa kau kemari ? apa kau pun ingin melihat seberapa menyedihkannya aku ?" Tanyaku dingin
"Tidak! aku kemari ingin berkenalan denganmu...." jawab pria itu
"Lebih baik kau pergi saja, bukankah teman-teman kayamu juga sudah pergi meninggalkan sekolah ini?" tanyaku lagi kecut
"Biarlah, tapi aku ingin bersamamu...." jawab nya
aku memandangnya muak secepat mungkin aku pergi meninggalkannya tapi ia mengejarku.
"Aku ingin menjadi temanmu, tak bisa kah kau terima aku menjadi temanmu?" tanya pria itu mengikuti dibelakangku
aku tak memperdulikannya, aku berlari berusaha menghindar darinya tapi ia tetap mengejarku.
Keesokan harinya anak pria murid baru itu tetap mengikutiku kemanapun aku pergi, dan anehnya pagi itu tak ada ejekan yang terlontar dari mulut semua murid disini tidak seperti biasanya, "Aku yang mengencam mereka untuk tidak memperlakukanmu dengan buruk!" tuturnya padaku ketika aku sedangterduduk sendiri dibangku ruang kelas "Apa maksudmu?" tanyaku tak mengerti dengan perkataanya
"Aku ingin menjadi temanmu... apa kau benar-benar membenciku ? aku hanya ingin menjadi temanmu tak lebih!"
"kenapa harus aku?" tanyaku "Dan asal kau tau aku tidak butuh siapapun disekolah ini termasuk seorang teman!" lanjutku tegas
"Tapi kenapa?" tanyanya
"Apa kau tak mengerti atau memang pura-pura tidak mengerti?" semua orang orang disini tak ada yang baik satu pun! apa itu yang selalu dilakukan oleh orang-orang kaya terhadap orang miskin sepertiku?" tanyaku dengan kedua bolamataku menatapnya
"Tidak semua orang seperti itu...." jawabnya
"Tidak?" tanyaku " Apa ada didunia ini orang yang memihak kepada orang miskin sepertiku ?"lanjutku menangis
"Ada!" jawabnya "Akulah orangnya, aku berada dipihakmu. Tak peduli siapa kamu dan siapa aku ... Yang jelas aku ingin berteman denganmu" Lanjutnya
Aku sejenak terdiam memandang matanya dalam.
"apa kau tidak malu jika berteman denganku?" Tanyaku masih memandang matanya
"Malu? apa maksudmu?" tak peduli siapa kamu dan siapa aku bagiku itu tak penting bukankah berteman dengan siapapun bisa tanpa harus memandang derajat orang tersebut?" jelasnya
Aku tersenyu padanya, ia pun membalas senyumanku dengan manis.
Semua anak menghampiriku, salah satu dari mereka mendorong tubuhku hingga aku terjatuh ke lantai.
"bangunlah.... ayo bangun anak miskin!" ucap seorang murid pria yang mendorongku tadi
Aku hanya bisa menangis menunduk, semua anak memukuliku hingga seluruh wajahku memar.
Tak berseling lama tiba-tiba seseorang datang yang tak lain itu adalah ibu kim, guru wali kelasku.
"Hentikan semuanya!!!" teriak ibu Kim,
Sesaat semua murid yang mengelilingiku terkejut dan spontan berlari berhamburan memasuki ruangan kelasnya masing-masing.
Ibu Kim secepat mungkin mendekatiku dan membantuku berdiri, "Kau tak apa Melati ?" tanya ibu Kim lembut
"Tidak bu, aku baik-baik saja" jawabku menunduk
"Lebih baik kau obati dulu lukamu, dan ibu akan meminta seragam baru untukmu" tutur ibu Kim
"Tidak bu tidak usah, aku baik-baik saja, terima kasih" kataku
"Baiklah, kau akan diijinkan pulang sekarang, ibu yang akan bertanggung jawab"
Oh sungguh ini tak begitu buruk untukku, akhirnya aku bisa pulang lebih cepat juga mimpi aapa aku semalam sampai bisa beruntung seperti ini.
Aku mengangkat wajahku kulihat disebelah ibu Kim berdiri seorang anak pria berpakaian seragam dan tersenyum padaku, jelas saja dia bukan siswa sekolah ini aku pun baru melihatnya.
Ibu Kim berkata jika ia pun akan memasuki ruangan kelasku untuk mengenalkan murid baru, aku berjalan mengikuti ibu Kim tepatnya dibelakang murid pria baru itu
Sesampainya diruang kelas aku segera menuju tempat dudukku dan mengambil tas milikku, semua anak memandangku sinis meski aku tidak melihatnya langsung karna aku menundukan kepalaku ketika berjalan tapi aku bisa merasakannya.
***
Pagi yang begitu cerah, membuat bahagia siapapun orangnya yang melihat keindahannya, angin pagi berhembus kencang menerpa tubuhku. Langkah demi langkah aku tapaki hingga sampailah kedepan gerbang sekolahku.
Aku memasuki ruang kelasku, terlihat disana beberapa orang anak memandangku dengan sinis bahkan ketika aku melewati mereka, mereka menghalang jalanku dan mendorong tubuhku hingga terjatuh. hanya tawa kesenangan yang mereka dapatkan.
Tiba-tiba seseorang mengulurkan tangannya padaku, aku secepat mungkin memastikan orang itu, ternyata itu adalah murid baru yang kemarin aku bertemu dengannya.
"ayolah... bangun.." ucap pria itu yang akupun tak mengenalnya
Sontak semua anak merasa heran dan bingung,
"Fandy! apa yang sedang kau lakukan?" tanya seorang murid laki-laki padanya
tapi dia tak menghiraukannya
Aku tak menerima uluran tangan miliknya, aku berfikir dia pun pasti sama seperti anak-anak lain, akhirnya aku pergi berlari keluar kelas.
Aku menangis dibawah pohon ditaman, aku tak peduli bel pelajaran sekolah dimulai. Hatiku hancur kenapa juga aku harus dilahirkan oleh sepasang keluarga penjual susu kaleng keliling? kenapa aku tidak seperti mereka? tuhan tak adil!.
Sampai sekolah sepi ditinggalkan oleh penghuninya, aku masih tetap berada dibawah pohon itu terduduk dengan kaki menegak menompang tangan dan daguku pandanganku sayu kedepan.
Tiba-tiba seseorang memegang pundakku, aku menoleh
"kau..." ucapku
"yah ini aku, apa aku boleh duduk disampingmu ?" tanya pria itu
"Untuk apa kau kemari ? apa kau pun ingin melihat seberapa menyedihkannya aku ?" Tanyaku dingin
"Tidak! aku kemari ingin berkenalan denganmu...." jawab pria itu
"Lebih baik kau pergi saja, bukankah teman-teman kayamu juga sudah pergi meninggalkan sekolah ini?" tanyaku lagi kecut
"Biarlah, tapi aku ingin bersamamu...." jawab nya
aku memandangnya muak secepat mungkin aku pergi meninggalkannya tapi ia mengejarku.
"Aku ingin menjadi temanmu, tak bisa kah kau terima aku menjadi temanmu?" tanya pria itu mengikuti dibelakangku
aku tak memperdulikannya, aku berlari berusaha menghindar darinya tapi ia tetap mengejarku.
Keesokan harinya anak pria murid baru itu tetap mengikutiku kemanapun aku pergi, dan anehnya pagi itu tak ada ejekan yang terlontar dari mulut semua murid disini tidak seperti biasanya, "Aku yang mengencam mereka untuk tidak memperlakukanmu dengan buruk!" tuturnya padaku ketika aku sedangterduduk sendiri dibangku ruang kelas "Apa maksudmu?" tanyaku tak mengerti dengan perkataanya
"Aku ingin menjadi temanmu... apa kau benar-benar membenciku ? aku hanya ingin menjadi temanmu tak lebih!"
"kenapa harus aku?" tanyaku "Dan asal kau tau aku tidak butuh siapapun disekolah ini termasuk seorang teman!" lanjutku tegas
"Tapi kenapa?" tanyanya
"Apa kau tak mengerti atau memang pura-pura tidak mengerti?" semua orang orang disini tak ada yang baik satu pun! apa itu yang selalu dilakukan oleh orang-orang kaya terhadap orang miskin sepertiku?" tanyaku dengan kedua bolamataku menatapnya
"Tidak semua orang seperti itu...." jawabnya
"Tidak?" tanyaku " Apa ada didunia ini orang yang memihak kepada orang miskin sepertiku ?"lanjutku menangis
"Ada!" jawabnya "Akulah orangnya, aku berada dipihakmu. Tak peduli siapa kamu dan siapa aku ... Yang jelas aku ingin berteman denganmu" Lanjutnya
Aku sejenak terdiam memandang matanya dalam.
"apa kau tidak malu jika berteman denganku?" Tanyaku masih memandang matanya
"Malu? apa maksudmu?" tak peduli siapa kamu dan siapa aku bagiku itu tak penting bukankah berteman dengan siapapun bisa tanpa harus memandang derajat orang tersebut?" jelasnya
Aku tersenyu padanya, ia pun membalas senyumanku dengan manis.
PROFIL PENULIS
Hai.. Aku Sri Ayu biasa dipanggi; Ayu, Umurku 15 tahun, Aku tinggal di Indramayu Jabar..
Aku bercita-cita menjadi seorang penulis terkenal, Maaf jika dari cerita yang aku buat diatas banyak kata-kata yang tidak pantas,
Aku bercita-cita menjadi seorang penulis terkenal, Maaf jika dari cerita yang aku buat diatas banyak kata-kata yang tidak pantas,
SUmber : lokerseni.web.id
TEMAN PERTAMA DI HIDUPKU
BIBIR SENJA
Karya Sulkhan Khoiri
Karya Sulkhan Khoiri
Aku rindu pada bibir senja, adakah ia kan hadir kembali setelah sekian hari ia tak pernah aku jumpai. “widia” dialah sahabatku yang biasa ku tulis dalam diariku bibir senja. semenjak kematian ayahnya gadis imut berambut ikal mayang ini tak jarang membungkam diri, dia lebih banyak memilih untuk diam dari pada tersenyum.
Sebulan sebelum kematian pak nufus “ayah widia” seperti biasa di saat waktu senja yang tertuang adalah sajian senyum canda dan tawa segenap sahabat, semua lebih suka widia yang banyak tersenyum. Tapi kini bibir senja sudahlah tiada lagi. kini widia bukan widia yang dulu, yang tarian bibirnya mampu menjelmakan suasana terasa seperti di sudut nirwana.
Sebulan sebelum kematian pak nufus “ayah widia” seperti biasa di saat waktu senja yang tertuang adalah sajian senyum canda dan tawa segenap sahabat, semua lebih suka widia yang banyak tersenyum. Tapi kini bibir senja sudahlah tiada lagi. kini widia bukan widia yang dulu, yang tarian bibirnya mampu menjelmakan suasana terasa seperti di sudut nirwana.
![]() |
| Bibir Senja |
Widia adalah sosok gadis yang berbakti pada orang tua, terpancar aura kepolosan dari tubuhnya mampu memberi kebeningan pada senja dari bening kedua matanya. Aku tahu apa yang dirasakan widia, anak semata wayang bu ratni ini masih sedih merasa kehilangan seorang ayah. Di sinilah aku mulai membuka memori yang dulu. ku pasang pandang kedua mataku pada perbatasan senja dan malam. dengan perlahan sisa semburan sinar matahari mulai sirna, angin yang berhembuspun mulai menebar aroma wangi sang malam.
Seiring terbukanya pintu malam terbukalah pintu masa laluluku. dulu aku juga pernah kehilangan seorang ayah, ketika aku berusia enam tahun, tapi aku tidak seperti widia yang setiap saat mengisi waktunya hanya dengan melamun. Saat itu rasa kabung melingkar dijiwaku, dan itu adalah sebuah kesedihan yang ngilu terasa dalam jiwa. Namun semua itu tak lama mengeram dibenakku, cukup seminggu aku merasa duka semua ku anggap angin lalu. atau mungkin karena saat itu aku baru berusia tunas hingga semudah itu aku bisa melupakan duka saat itu. sedangkan widia sekarang beranjak tiga belas tahun, mungkin ia sudah mengerti sungguh betapa berartinya kehadiran seorang ayah dalam hidupnya.
Tak terasa pandang yang ku pasang sudah di tepian malam. sungguh betapa aku terkejut, ketika aku baru sadar dari lamunanku ternyata widia ada disampingku.
“melamun yah…” widia menegurku, suaranya lirih tatapannya lurus tak berliuk.
“tumben kamu keluar rumah wid… senja sudahlah beranjak pergi dan kini datang malam… sepertinya ada yang ingin kau kabarkan padaku…” aku mencoba menebak maksud kedatangan widia.
“mungkin hari ini adalah terakhir aku bertatap denganmu…” widia berucap, wajahnya berlahan mulai memerah.
“emang kamu mau kemana…?” tanyaku penasaran.
“tak sengaja tadi siang aku mendengar obrolan bu rina dan bu epi, bahwa burina sedang mencari anak perempuan untuk bekerja di rumah makan majikannya. disitulah kemudian aku berpikir panjang, dan akhirnya kebulatan hatiku memutuskan aku saja yang ikut bu rina. lalu aku datangi burina dan meminta diri ikut bersamanya, burina tanpa berpikir panjang menyetujui permintaanku”. widia menjelaskan maksudnya. kedua matanya separuh keduh, sepertinya akan membuncah hujan dari sudut kedua matanya.
“oh… di rumah makan burina yang di jakarta…?” lagi lagi aku mencoba menebak.
“iyah benar…” widia berujar, dengan mata yang berkaca-kaca.
aku jadi ikut terharu melihat yang sebentar lagi akan mengosongkan diri dari ruang cahaya persahabatan.
“terus bagaimana dengan sekolahmu wid…?” tanyaku
“ya terpaksa aku berhenti. ayahku sudah tiada, ibu sudah tak ada yang membantu cari nafkah lagi. lagian ibu takan sanggup membiyayaiku sekolah yang masih lama, dua setengah tahun lagi kan…” widia menjelaskan.
Widia memang anak yang berbakti pada orang tua. dari matanya berlahan meneteskan air mata ketika ia bercerita tentang ibunya yang malang, bicaranyapun tak jelas karena menahan tangis, hidungnya yang mungil berujung merah mega. Yang dulu bibir widia adalah tarian senja, kini berubah menjadi bibir tangisan malam, karena basah oleh air mata malam itu
“ya sudah gak usah bersedih…” aku sedikit menghibur widia.
“aku percaya padamu wid… kau adalah gadis yang berpendirian teguh. semoga kau dapatkan apa yang kau harapkan, dan mungkin hanya ini yang bisa ku bekali untukmu sebagai sahabat sedari kecil hingga sekarang dan mungkin hari inilah persahabatan kita terputus… entah berapa lama akan terputus…” aku menyambung pembicaraan, terus menghibur widia.
Hitam malam semakin pekat merata ke segala angkasa, hanya ada bening di sisi rembulan dan bintang, udara yang berhembuspun terasa dingin menjilat kulitku.
waktu terus berjalan, hanya tinggal menanti pagi dan widia harus pergi. Selamat menyongsong hidup yang kau harapkan wid… semoga tuhan memberi terang pada jalan hidupmu…
Seiring terbukanya pintu malam terbukalah pintu masa laluluku. dulu aku juga pernah kehilangan seorang ayah, ketika aku berusia enam tahun, tapi aku tidak seperti widia yang setiap saat mengisi waktunya hanya dengan melamun. Saat itu rasa kabung melingkar dijiwaku, dan itu adalah sebuah kesedihan yang ngilu terasa dalam jiwa. Namun semua itu tak lama mengeram dibenakku, cukup seminggu aku merasa duka semua ku anggap angin lalu. atau mungkin karena saat itu aku baru berusia tunas hingga semudah itu aku bisa melupakan duka saat itu. sedangkan widia sekarang beranjak tiga belas tahun, mungkin ia sudah mengerti sungguh betapa berartinya kehadiran seorang ayah dalam hidupnya.
Tak terasa pandang yang ku pasang sudah di tepian malam. sungguh betapa aku terkejut, ketika aku baru sadar dari lamunanku ternyata widia ada disampingku.
“melamun yah…” widia menegurku, suaranya lirih tatapannya lurus tak berliuk.
“tumben kamu keluar rumah wid… senja sudahlah beranjak pergi dan kini datang malam… sepertinya ada yang ingin kau kabarkan padaku…” aku mencoba menebak maksud kedatangan widia.
“mungkin hari ini adalah terakhir aku bertatap denganmu…” widia berucap, wajahnya berlahan mulai memerah.
“emang kamu mau kemana…?” tanyaku penasaran.
“tak sengaja tadi siang aku mendengar obrolan bu rina dan bu epi, bahwa burina sedang mencari anak perempuan untuk bekerja di rumah makan majikannya. disitulah kemudian aku berpikir panjang, dan akhirnya kebulatan hatiku memutuskan aku saja yang ikut bu rina. lalu aku datangi burina dan meminta diri ikut bersamanya, burina tanpa berpikir panjang menyetujui permintaanku”. widia menjelaskan maksudnya. kedua matanya separuh keduh, sepertinya akan membuncah hujan dari sudut kedua matanya.
“oh… di rumah makan burina yang di jakarta…?” lagi lagi aku mencoba menebak.
“iyah benar…” widia berujar, dengan mata yang berkaca-kaca.
aku jadi ikut terharu melihat yang sebentar lagi akan mengosongkan diri dari ruang cahaya persahabatan.
“terus bagaimana dengan sekolahmu wid…?” tanyaku
“ya terpaksa aku berhenti. ayahku sudah tiada, ibu sudah tak ada yang membantu cari nafkah lagi. lagian ibu takan sanggup membiyayaiku sekolah yang masih lama, dua setengah tahun lagi kan…” widia menjelaskan.
Widia memang anak yang berbakti pada orang tua. dari matanya berlahan meneteskan air mata ketika ia bercerita tentang ibunya yang malang, bicaranyapun tak jelas karena menahan tangis, hidungnya yang mungil berujung merah mega. Yang dulu bibir widia adalah tarian senja, kini berubah menjadi bibir tangisan malam, karena basah oleh air mata malam itu
“ya sudah gak usah bersedih…” aku sedikit menghibur widia.
“aku percaya padamu wid… kau adalah gadis yang berpendirian teguh. semoga kau dapatkan apa yang kau harapkan, dan mungkin hanya ini yang bisa ku bekali untukmu sebagai sahabat sedari kecil hingga sekarang dan mungkin hari inilah persahabatan kita terputus… entah berapa lama akan terputus…” aku menyambung pembicaraan, terus menghibur widia.
Hitam malam semakin pekat merata ke segala angkasa, hanya ada bening di sisi rembulan dan bintang, udara yang berhembuspun terasa dingin menjilat kulitku.
waktu terus berjalan, hanya tinggal menanti pagi dan widia harus pergi. Selamat menyongsong hidup yang kau harapkan wid… semoga tuhan memberi terang pada jalan hidupmu…
Sumber : lokerseni.web.id
BIBIR SENJA
REAL FRIEND
Karya Regina Natalina Naomi
Aku tidak tahu, sungguh. Ini mustahil. Aku tidak melakukannya! Aku bukan pelakunya.
Ah ya, perkenalkan aku Sherly. Siswi kelas 3 SMP Nusa Antara. Em, ingin tahu apa yang kualami? Mmm, mungkin aku perlu bercerita.
Ah ya, perkenalkan aku Sherly. Siswi kelas 3 SMP Nusa Antara. Em, ingin tahu apa yang kualami? Mmm, mungkin aku perlu bercerita.
Semua dimulai dari sahabatku yang mendapat teror dari orang yang tak dikenal berupa surat misterius. Semula, sahabatku Andina mengabaikannya, tapi lama-kelamaan ia merasa terusik juga oleh surat-surat itu.
Ia mulai menyelidiki segala kemungkinan yang berhubungan dengan surat itu. Anehnya, semua buktinya mengarah padaku. Hei, bukan aku pelakunya! Aku jujur, sungguh.
![]() |
| Real Friend |
Kalau buntut masalah ini tidak panjang, aku juga tak akan memproblemkannya. Tapi sekarang, semua orang menatapku seolah aku adalah kutu di rambut mereka. Mereka semua menganggapku pengkhianat, jahat, antagonis. Aku benci semua itu. Persahabatanku hancur, diikuti reputasiku.
Aku berusaha kuat. Kuat saja, kuat. Aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang-orang yang hanya bisa menuduh tanpa membuktikannya.
Segala masalah ini membuatku lelah. Lebih baik aku beristirahat.
***
"Liat tuh, si pengkhianat. Hah, jahat banget dia. Masih belagak ga ada apa-apa lagi. Idih, jijik gue." Suara seorang siswa mulai menghinaku. Aku bersikap santai dan tidak menghadapi dengan harap dia lelah sendiri.
Tapi nampaknya itu mustahil. Dia malah terus menghinaku, terus. Dan itu didepan Andina dan membuatnya semakin benci denganku.
Apa jangan jangan... Dia pelakunya? Dara pelakunya? Astaga, apa yang dia harapkan dengan berbuat seperti itu? Berharap Vieno beralih padanya? Mencari sensasi? Atau apa?
Tapi itu jelas tidak mungkin. Tidak mungkin.
***
Aku memejamkan mataku. Lelah mendera, menuntutku segera tidur. Tapi beban yang menimpaku ini seolah menahanku, tidak dapat beristirahat dengan tenang. Memoriku mengingat saat Andina pertama kali mendapat surat teror itu.
"Ada apa, An?"
"Tau nih, ada surat buat gue,"
"Surat cinta kali?"
Andina nyengir. "Pengennya sih gitu.
"Yaudah, buka aja!"
"Oke..."
Heh, Andina anak sok manis…
Gue ingetin, jangan sok! Muak gue ngeliat lo. Inget ya. Awas lo. Jika lo terus tebar pesona sama si dia gue bisa pastiin semua bisa mengancam hidup lo. Gue gak akan biarin lo hidup tenang! Ngerti?
Wajah Andina syok, tapi sejenak kemudian dia bersikap santai dengan berkata, "Biarin aja. Orang iseng kali!"
Aku ingat, saat itu aku hanya mengangkat bahu tidak tahu. Lagipula aku bisa menanggapi apa? pikirku kala itu.
Aku mengerjapkan mata pelan. Kupandangi sebuah gelang pemberian Andina yang melingkar di pergelanganku. Benarkah Andina sahabatku? Kenapa dia mudah terhasut orang lain? Sahabat yang sejati tak akan langsung mudah percaya pada perkataan tanpa bukti orang lain yang memfitnah sahabatnya, bukan?
Ah, aku ingat ibuku sempat berkata bahwa ada surat untukku sebelum ia berangkat kerja.
Kubuka amplop itu.
...
Heh Sherly,
Gimana? Enak, diabaiin temen? Enak? Mudah mudahan lo suka.
Tunggu aja deh, masih ada kejutan lainnya buat lo. Semoga lo suka, haha!
Pengen ga diganggu oleh masalah ini lagi? Gue liat mata lo berkantung gitu ya. Haha. Mau gak gue kembaliin sahabat dan reputasi lo? Tapi ada syaratnya. Jauhin Vieno!
From someone who hate you
...
Aku tercekat. Mataku mengerjap beberapa kali. Nyatakah ini? Siapa? Siapa yang tega melakukan ini?
Dia ingin aku menjauhi Vieno? Vieno sahabatku, tetangga sejak kecilku, sekaligus sepupu baikku?
Ini harus diluruskan.
***
Ien, gw tunggu lo di tempat biasa yo. gpl. penting bro, cepet.
Begitulah isi SMS yang kukirimkan pada Vieno. Aku memang harus mengkoordinasikan ini pada sepupu terdekatku ini. Jika tidak, masalah semakin panjang dan aku akan semakin stres.
Oke sis, gw dtng segera.
Aku menghela napas lega. Semoga masalah pelik ini dapat semakin cepat terurai.
***
"Ada apa, sis?"
"Gini, ..." Aku menjelaskan segala beban yang bertengger di pundakku yang kutanggung sendiri selama sebulan ini. Vieno mengangguk mengerti.
"Iya, gue emang keren, jadi banyak fansnya."
"Eh, gue udah panik gini lo malah narsis gitu, Ien? Woy, nyadar bro!"
"Becanda kali Sher! Oke, gini aja. Lo laksanain peritah orang nyebelin itu."
"Lalu?"
"Nanti kita omongin lagi. Oke, sekarang lo mau traktir gue?"
"Dasar!"
***
...
Sherly sok cantik!
Lo gak denger omongan gue kemaren? Kenapa lo malah nemuin Vieno? Pake becanda2 gitu lagi, iewh.
Gue mau ketemu lo, sok cantik! Belakang sekolah, besok pulang sekolah. Jangan ajak siapapun!
Inget!
...
Mau apa sih, orang ini? Jahat sekali. Oke, aku akan pergi.
***
Kupandangi seluruh penjuru taman belakang ini. Mana si misterius itu? Pengecutkah dia sehingga berubah pikiran?
"Gue kira lo ga dateng, Sherly."
Suara itu- Dara! Benar dugaanku. Aku memutar tubuhku.
"Kenapa lo nantangin gue kesini?" nada ucapanku gagah berani sekaligus menantang.
"Berani? Oke, gue minta lo jauhin Vieno!"
"Kenapa begitu?" tanyaku.
"Karena gue suka sama Vieno!"
"Kalo gue bilang, gue dan Vieno ga punya hubungan khusus, masalah lo apa?"
"Cih!" cibir Dara meremehkan. "Keliatan akrab begitu!"
"Karena gue sepupu Vieno!"
Dara membeku. Pipinya mulai berubah soft pink. Dia tak mampu berbicara. Aku mengalahkannya dalam satu kalimat.
"Kenapa diem? Malu atau apa?"
Dara terduduk lemas. "Sori..."
"Trus gimana lo blikin semua ini? Bisa?"
"Gue coba..."
***
Keadaan membaik. Semua tak memandangku layak kotoran di sepatu.
Tetapi aku mendiamklan Andina. Ternyata Andina disuruh Dara, lalu Andina menurutinya, dan itu membuatku berang! Sahabat sejak SD-ku dengan mudahnya menuruti orang yang baru dikenalnya tidak sampai setahun. Huh, baik sekali.
Andina berusaha meminta maaf padaku, aku terus mengabaikannya. Ia mengikutiku saat perjalanan pulang, mencoba menjelaskan. Semula, aku tak mengindahkannya. Tapi satu kalimat langsung membuat persepsiku berubah.
"Gue ga mau lo terluka..."
Aku menoleh padanya.
"Gue ga mau lo disakitin Dara. Dia bilang akan nyakitin lo kalo gue ga ngelakuin apa yang dia mau. Sebenernya, gue tersiksa, Sher, gue kesiksa ngeliat lo sedih banget gitu. Tapi kalo gak..."
"Stt," potongku. "Thanks ya An... Perhatian lo baik banget. Maaf gue sempet prasangka buruk sama lo..."
"Gue yang harusnya minta ma..."
'Sttt, udahlah. Yang penting... Friend?"
"Friend! Thanks Sher, lo mau maafin gue!"
Aku memeluk Andina. Sahabatku, selamanya takkan berubah. Sahabat sejatiku yang rela mengorbankan perasaannya demi menyelamatkan hati sahabatnya, meski dia kurang berpikir lebih jauh. Tapi dia tetap sahabat sejatiku.
Andina balas memelukku. "Thanks..." bisiknya.
Aku berusaha kuat. Kuat saja, kuat. Aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang-orang yang hanya bisa menuduh tanpa membuktikannya.
Segala masalah ini membuatku lelah. Lebih baik aku beristirahat.
***
"Liat tuh, si pengkhianat. Hah, jahat banget dia. Masih belagak ga ada apa-apa lagi. Idih, jijik gue." Suara seorang siswa mulai menghinaku. Aku bersikap santai dan tidak menghadapi dengan harap dia lelah sendiri.
Tapi nampaknya itu mustahil. Dia malah terus menghinaku, terus. Dan itu didepan Andina dan membuatnya semakin benci denganku.
Apa jangan jangan... Dia pelakunya? Dara pelakunya? Astaga, apa yang dia harapkan dengan berbuat seperti itu? Berharap Vieno beralih padanya? Mencari sensasi? Atau apa?
Tapi itu jelas tidak mungkin. Tidak mungkin.
***
Aku memejamkan mataku. Lelah mendera, menuntutku segera tidur. Tapi beban yang menimpaku ini seolah menahanku, tidak dapat beristirahat dengan tenang. Memoriku mengingat saat Andina pertama kali mendapat surat teror itu.
"Ada apa, An?"
"Tau nih, ada surat buat gue,"
"Surat cinta kali?"
Andina nyengir. "Pengennya sih gitu.
"Yaudah, buka aja!"
"Oke..."
Heh, Andina anak sok manis…
Gue ingetin, jangan sok! Muak gue ngeliat lo. Inget ya. Awas lo. Jika lo terus tebar pesona sama si dia gue bisa pastiin semua bisa mengancam hidup lo. Gue gak akan biarin lo hidup tenang! Ngerti?
Wajah Andina syok, tapi sejenak kemudian dia bersikap santai dengan berkata, "Biarin aja. Orang iseng kali!"
Aku ingat, saat itu aku hanya mengangkat bahu tidak tahu. Lagipula aku bisa menanggapi apa? pikirku kala itu.
Aku mengerjapkan mata pelan. Kupandangi sebuah gelang pemberian Andina yang melingkar di pergelanganku. Benarkah Andina sahabatku? Kenapa dia mudah terhasut orang lain? Sahabat yang sejati tak akan langsung mudah percaya pada perkataan tanpa bukti orang lain yang memfitnah sahabatnya, bukan?
Ah, aku ingat ibuku sempat berkata bahwa ada surat untukku sebelum ia berangkat kerja.
Kubuka amplop itu.
...
Heh Sherly,
Gimana? Enak, diabaiin temen? Enak? Mudah mudahan lo suka.
Tunggu aja deh, masih ada kejutan lainnya buat lo. Semoga lo suka, haha!
Pengen ga diganggu oleh masalah ini lagi? Gue liat mata lo berkantung gitu ya. Haha. Mau gak gue kembaliin sahabat dan reputasi lo? Tapi ada syaratnya. Jauhin Vieno!
From someone who hate you
...
Aku tercekat. Mataku mengerjap beberapa kali. Nyatakah ini? Siapa? Siapa yang tega melakukan ini?
Dia ingin aku menjauhi Vieno? Vieno sahabatku, tetangga sejak kecilku, sekaligus sepupu baikku?
Ini harus diluruskan.
***
Ien, gw tunggu lo di tempat biasa yo. gpl. penting bro, cepet.
Begitulah isi SMS yang kukirimkan pada Vieno. Aku memang harus mengkoordinasikan ini pada sepupu terdekatku ini. Jika tidak, masalah semakin panjang dan aku akan semakin stres.
Oke sis, gw dtng segera.
Aku menghela napas lega. Semoga masalah pelik ini dapat semakin cepat terurai.
***
"Ada apa, sis?"
"Gini, ..." Aku menjelaskan segala beban yang bertengger di pundakku yang kutanggung sendiri selama sebulan ini. Vieno mengangguk mengerti.
"Iya, gue emang keren, jadi banyak fansnya."
"Eh, gue udah panik gini lo malah narsis gitu, Ien? Woy, nyadar bro!"
"Becanda kali Sher! Oke, gini aja. Lo laksanain peritah orang nyebelin itu."
"Lalu?"
"Nanti kita omongin lagi. Oke, sekarang lo mau traktir gue?"
"Dasar!"
***
...
Sherly sok cantik!
Lo gak denger omongan gue kemaren? Kenapa lo malah nemuin Vieno? Pake becanda2 gitu lagi, iewh.
Gue mau ketemu lo, sok cantik! Belakang sekolah, besok pulang sekolah. Jangan ajak siapapun!
Inget!
...
Mau apa sih, orang ini? Jahat sekali. Oke, aku akan pergi.
***
Kupandangi seluruh penjuru taman belakang ini. Mana si misterius itu? Pengecutkah dia sehingga berubah pikiran?
"Gue kira lo ga dateng, Sherly."
Suara itu- Dara! Benar dugaanku. Aku memutar tubuhku.
"Kenapa lo nantangin gue kesini?" nada ucapanku gagah berani sekaligus menantang.
"Berani? Oke, gue minta lo jauhin Vieno!"
"Kenapa begitu?" tanyaku.
"Karena gue suka sama Vieno!"
"Kalo gue bilang, gue dan Vieno ga punya hubungan khusus, masalah lo apa?"
"Cih!" cibir Dara meremehkan. "Keliatan akrab begitu!"
"Karena gue sepupu Vieno!"
Dara membeku. Pipinya mulai berubah soft pink. Dia tak mampu berbicara. Aku mengalahkannya dalam satu kalimat.
"Kenapa diem? Malu atau apa?"
Dara terduduk lemas. "Sori..."
"Trus gimana lo blikin semua ini? Bisa?"
"Gue coba..."
***
Keadaan membaik. Semua tak memandangku layak kotoran di sepatu.
Tetapi aku mendiamklan Andina. Ternyata Andina disuruh Dara, lalu Andina menurutinya, dan itu membuatku berang! Sahabat sejak SD-ku dengan mudahnya menuruti orang yang baru dikenalnya tidak sampai setahun. Huh, baik sekali.
Andina berusaha meminta maaf padaku, aku terus mengabaikannya. Ia mengikutiku saat perjalanan pulang, mencoba menjelaskan. Semula, aku tak mengindahkannya. Tapi satu kalimat langsung membuat persepsiku berubah.
"Gue ga mau lo terluka..."
Aku menoleh padanya.
"Gue ga mau lo disakitin Dara. Dia bilang akan nyakitin lo kalo gue ga ngelakuin apa yang dia mau. Sebenernya, gue tersiksa, Sher, gue kesiksa ngeliat lo sedih banget gitu. Tapi kalo gak..."
"Stt," potongku. "Thanks ya An... Perhatian lo baik banget. Maaf gue sempet prasangka buruk sama lo..."
"Gue yang harusnya minta ma..."
'Sttt, udahlah. Yang penting... Friend?"
"Friend! Thanks Sher, lo mau maafin gue!"
Aku memeluk Andina. Sahabatku, selamanya takkan berubah. Sahabat sejatiku yang rela mengorbankan perasaannya demi menyelamatkan hati sahabatnya, meski dia kurang berpikir lebih jauh. Tapi dia tetap sahabat sejatiku.
Andina balas memelukku. "Thanks..." bisiknya.
PROFIL PENULIS
Nama: Regina Natalina Naomi
TTL:Jakarta, 25 Desember 2000.
Minat: Menulis fiksi (cerpen, cerbung, dan sedang dalam usaha menghasilkan karya novel) dan juga puisi, serta dunia blog
Blog: Blog pribadi di http://reginanatalinanaomi.wordpress.com dan blog berisi karya fiksi di http://rumahcerbung.wordpress.com
Facebook: Regina Natalina Naomi / Regina Natal Naomi
TTL:Jakarta, 25 Desember 2000.
Minat: Menulis fiksi (cerpen, cerbung, dan sedang dalam usaha menghasilkan karya novel) dan juga puisi, serta dunia blog
Blog: Blog pribadi di http://reginanatalinanaomi.wordpress.com dan blog berisi karya fiksi di http://rumahcerbung.wordpress.com
Facebook: Regina Natalina Naomi / Regina Natal Naomi
Sumber : lokerseni.web.id
REAL FRIEND
SAHABATMU
Karya Amalia Hasyim
Di penghujung hari, aku berdiri di depan jendela kamarku yang sengaja kubuka sembari memandang bintang yang tidak pernah lelah menghias malam. Saat ini pukul 11.35 pm tetapi mataku belum juga terpejam. Terlalu banyak masalah yang sedang memenuhi pikiranku. Ada-saja masalah yang terjadi dalam hidupku ini. Padahal, aku ingin sehari saja hidup tanpa masalah. Namun, aku hanyalah manusia biasa yang memiliki sekedar keinginan. Aku hanya bisa berdoa dan Dialah yang menentukannya.
Di langit, aku melihat sebuah bintang yang cahaya sangat terang. Terangnya lebih daripada bintang yang lainnya. Ingin sekali aku memetik bintang itu dan ku genggam erat dengan tanganku. Namun, hal itu tidak mungkin terjadi. Menurutku, ada tiga alasan yang membuatnya tidak mungkin. Pertama, bintang itu sangat jauh. Kedua, bintang lebih besar dari tanganku walau dari kejauhan memang terlihat kecil. Ketiga, bintang itu pasti memiliki panas. Oleh sebab itu, lebih baik aku hanya menikmatinya saja. Itu sudah lebih dari cukup.
Ku lihat jam di dinding kamarku yang terpajang indah di dinding yang ada di depan meja belajarku. Ya, aku sengaja memasang benda itu di dinding depan meja belajar agar aku bisa dengan mudah melihat waktu saat aku belajar. Dengan begitu, aku dapat mengontrol belajarku.
![]() |
| Sahabatmu |
Pukul 01.45 am, aku mulai menguap. Aku pun memutuskan untuk tidur. Sebelum tidur, aku menutup jendela kamarku terlebih dahulu. Setelah itu, aku merebahkan badanku di atas ranjang. Dan beberapa menit kemudian aku tebuai dalam mimpi.
Beberapa jam kemudian…
Di pagi buta, sekitar jam 03.00am, aku terbangun akibat handphoneku bordering dengan nyaringnya dan mengganggu tidurku. Aku melihat handphoneku, orang yang menelepon itu adalah Ela, sahabatku. Dia tidak mungkin telepon di pagi buta seperti ini kalau bukan ada kepentingan mendesak. Aku memutuskan untuk mengangkat teleponku.
“Fin, ini benar-benar gawat…!” serunya di seberang sana. Dari suaranya, aku tahu dia sedang menghadapi masalah besar.
“kenapa?kenapa?”
“fin…fin…” Dia tak bisa berbicara dengan baik karena nafasnya tersengal-sengal.
“tarik nafas panjang dan hembuskan, tenangkan dirimu, bicara pelan-pelan.” Aku memberinya saran atau lebih bisa disebut sebagai instruksi.
Aku mendengar dia mengikuti instruksiku. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Tenang sejenak, beberapa saat kemudian, dia mulai berbicara dengan pelan-pelan, “laporan dan data penelitian ilmiah kita hilang.”
Deg. Kenapa bisa hilang? Yang benar saja, laporan itu telah aku dan Ela buat dengan susah payah. Dan sekarang, semuanya hilang begitu saja. Aku sebenarnya marah karena dia tak bisa menjaganya dengan baik. Akan tetapi, aku mencoba untuk menahan amarahku dan bertanya, “kenapa bisa terjadi?”
“Aku ngga tahu, Fin. Semuanya ilang gitu aja..” jawabnya.
“ya udah, nanti kita cari atau kalau tidak kita buat lagi.”
“Fin, maafin aku, aku ngga bisa jaga sesuatu yang telah kita buat susah payah..” ucapnya dengan penuh penyesalan.
“udah, ngga apa-apa.”
***
Aku berangkat ke sekolah dengan malas. Aku begitu berantakan. Kulit kusam, mata berkantung hitam seperti panda. Ini terjadi karena aku kurang tidur. Aku hanya tidur satu jam lebih 15 menit. Setelah Ela meneleponku, aku tidak bisa tidur lagi karena memikirkan masalah penelitian ilmiah itu.
Beberapa jam kemudian…
Di pagi buta, sekitar jam 03.00am, aku terbangun akibat handphoneku bordering dengan nyaringnya dan mengganggu tidurku. Aku melihat handphoneku, orang yang menelepon itu adalah Ela, sahabatku. Dia tidak mungkin telepon di pagi buta seperti ini kalau bukan ada kepentingan mendesak. Aku memutuskan untuk mengangkat teleponku.
“Fin, ini benar-benar gawat…!” serunya di seberang sana. Dari suaranya, aku tahu dia sedang menghadapi masalah besar.
“kenapa?kenapa?”
“fin…fin…” Dia tak bisa berbicara dengan baik karena nafasnya tersengal-sengal.
“tarik nafas panjang dan hembuskan, tenangkan dirimu, bicara pelan-pelan.” Aku memberinya saran atau lebih bisa disebut sebagai instruksi.
Aku mendengar dia mengikuti instruksiku. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Tenang sejenak, beberapa saat kemudian, dia mulai berbicara dengan pelan-pelan, “laporan dan data penelitian ilmiah kita hilang.”
Deg. Kenapa bisa hilang? Yang benar saja, laporan itu telah aku dan Ela buat dengan susah payah. Dan sekarang, semuanya hilang begitu saja. Aku sebenarnya marah karena dia tak bisa menjaganya dengan baik. Akan tetapi, aku mencoba untuk menahan amarahku dan bertanya, “kenapa bisa terjadi?”
“Aku ngga tahu, Fin. Semuanya ilang gitu aja..” jawabnya.
“ya udah, nanti kita cari atau kalau tidak kita buat lagi.”
“Fin, maafin aku, aku ngga bisa jaga sesuatu yang telah kita buat susah payah..” ucapnya dengan penuh penyesalan.
“udah, ngga apa-apa.”
***
Aku berangkat ke sekolah dengan malas. Aku begitu berantakan. Kulit kusam, mata berkantung hitam seperti panda. Ini terjadi karena aku kurang tidur. Aku hanya tidur satu jam lebih 15 menit. Setelah Ela meneleponku, aku tidak bisa tidur lagi karena memikirkan masalah penelitian ilmiah itu.
Di koridor kelas, aku bertemu dengan Ela. Wajahnya tidak lebih baik dari aku. Dia juga sama berantakannya denganku. Saat bertemu denganku, dia kembali menunjukan penyesalanannya. Aku lihat dia benar-benar menyesal telah begitu ceroboh. Sebenarnya, ini bukan murni kesalahannya. Ini juga salahku, kesalahan kami bersama. Kami tidak menjaga dengan baik sesuatu yang sangat penting ini.
Aku mencoba menenangkannya dan menjelaskan kalau semua ini bukan murni salahnya. Perlahan-lahan, dia mulai membaik dan tenang. Setelah benar-benar tenang, aku mengajaknya pergi ke kelas bersama. Di tengah perjalanan menuju kelas, aku berpapasan dengan Rama. Rama, seseorang yang minggu kemarin menyatakan cintanya padaku tetapi aku menolaknya. Aku memiliki segudang alasan kenapa aku menolaknya. Akan tetapi, yang paling utama adalah aku tidak memiliki perasaan lebih padanya selain sebagai teman satu sekolah.
Sikap Rama begitu dingin padaku. Mungkin, dia tidak terima karena aku menolaknya. Selama ini dia memang terkenal sebagai Prince Charming yang tidak pernah ditolak cewek. Jadi, kalau dia bersikap dingin padaku, ini tidak terlalu aneh. Akan tetapi, ada sesuatu yang menurutku sangat aneh. Rama tersenyum dengan manis tapi terkesan tidak ikhlas pada gadis yang disampingku, Ela, dan Ela membalasnya dengan senyum manis yang ceria. Biasanya Rama tidak pernah bersikap seperti ini pada Ela. Melihat saja kadang ogah-ogahan.
“Pagi, Ela.” Ucap Rama, dia bahkan menyapa Ela.
“Pagi juga, Rama.” Ela membalas sapaan Rama.
Aku menyikut lengan Ela dan menanyakan perihal keanehan Rama. Aku menanyakannya setelah Rama pergi tentunya. Mana mungkin aku berani bertanya tentang Rama jika Rama ada di depanku. Dia menjawab pertanyaanku dengan ketus “memang salah dia menyapaku? Aneh?”. Setelah menjawab pertanyaanku dengan nada yang tidak mengenakan itu, Ela langsung pergi meninggalkanku. Dia benar-benar aneh. Tadi raut wajahnya penuh rasa penyesalan tetapi sekarang dia lebih terlihat marah dan sebal. Dia marah padaku?
Di kelas, sikap Ela bersikap cuek padaku. Berbeda 180o dari tadi pagi. Berkali-kali aku berusaha membuatnya tersenyum dan mau berbicara padaku. Namun, hasilnya nihil. Aku lelah untuk membujuknya lagi. Besok aku akan mencobanya.
***
Siang harinya, sepulang sekolah, aku menemui Bu Endang, pembina Ekstrakurikuler PIR. Aku datang tanpa Ela. Dia langsung menghilang sesaat setelah bel panjang berbunyi. Aku datang ketempat itu untuk meminta perpanjangan waktu. Perpanjangan waktu untuk menyelesaikan menyelesaikan laporan dan data penelitian. Seharusnya, hari ini sudah dikumpulkan.
“tunggu disini, sebentar lagi Bu Endang akan datang.” Ucap salah seorang guru yang juga mengajar di kelasku, namanya Bu Farida. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Ya, Finda…” Orang yang aku tunggu-tunggu telah datang dan menyapaku.
Aku pun menjelaskan maksud kedatanganku menemui Bu Endang. Bu Endang mendengarkanku dengan baik. Tak lama kemudian, Bu Endang setuju untuk memberi tenggang waktu. Akan tetapi, hanya dua hari yang beliau berikan untuk kelompokku. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang telah diberikan oleh Bu Endang.
“terimakasih, Bu. Sekali lagi terima kasih…” Ucapku pada Bu Endang. Bu Endang tersenyum dengan lembut.
***
Berulang kali aku menelpon Ela. Akan tetapi, dia tidak mengangkatnya. Dia sungguh aneh. Aku harus ke rumahnya untuk mengerjakan tugas bersama. Aku pun ke rumah sahabatku itu dengan mengendarai sepeda kesayanganku yang berwarna hijau.
Ada pemandangan yang cukup menarik saat aku tiba di dekat rumah Ela. Aku melihat Ela keluar dari sebuah mobil mobil mewah berwarna merah metallic, Ferrari F70. Di sekolahku, Orang yang memiliki mobil mewah seharga kurang lebih 10 Miliar itu hanyalah Rama. Ya, mobil itu memang milik Rama. Aku semakin yakin saat aku melihat Rama keluar dari mobil itu dan berbicara pada Ela.
Bagaimana mereka bisa sedekat ini? Sungguh aneh dan cukup menarik perhatianku. Cukup menarik juga untuk diselidiki karena pasti ada ‘sesuatu’ dibalik semua ini. Akan tetapi, aku tidak mungkin menyelidikinya, tidak mungkin. Ingat, Ela itu sahabatku. Kalaupun memang benar ada ‘sesuatu’, nanti juga akan terbuka dengan sendirinya tanpa perlu diselidiki.
Setelah Rama dan mobilnya itu pergi, aku mendekati Ela. Aku berpura-pura tidak melihat dia datang bersama Rama. Aku tidak mempedulikannya.
“hi, La. Kamu kok ngga angkat teleponku?” tanyaku pada Ela.
“Emm aku..ngga bawa handphone” jawabnya, terdengar kaku.
“ada kabar bagus buat kita.”
“apa?”
Aku mencerritakan kabar bahagia tersebut, kesempatan kedua dari Bu Endang. Dia juga terlihat senang dan mengajakku untuk masuk ke dalam rumahnya. Setelah sampai di ruang tamu, dia mempersilahkanku duduk. Sementara dia mengambil minuman untukku, aku mempersiapkan beberapa bahan yang diperlukan.
“ini, Fin, minumnya..”
“makasih, La”
Aku langsung menengguk jus orange yang dibuat oleh Ela. Tenggorokanku yang sangat kering terasa sejuk saat air jus orange melewati tenggorokanku. Sedari tadi aku memang haus. Maklumlah, aku mengayuh sepeda dari rumahku sampai ke rumah Ela yang jaraknya tergolong jauh.
“kita mulai darimana ya?” tanyaku, Ela hanya diam. Dia malah terlihat melamun. Aku tidak bisa membaca pikirannya kali ini. Belakangan ini dia memang bersikap aneh. “Ela..halo halo..” aku mengibas-ibaskan tanganku di depan wajahnya untuk menyadarkannya dari aktivitas melamunnya.
“eh..ya, Fin..aa apa..?” tanya Ela padaku dengan gugup. Dia seperti orang yang baru saja tersadar dari mimpi buruknya.
“La, apa kamu punya sesuatu yang disembunyikan dariku?” entah mengapa aku bisa bertanya seperti itu pada Ela.
“tidak.” Jawabnya singkat dan terlihat tidak wajar. Dia memang jarang berbicara singkat padaku. Akan tetapi, aku berusaha untuk tidak mempermasalahkannya.
“emm baiklah..ayo kita lanjutkan.”
“baiklah, mari kita lanjutkan.”
Aku dan Ela berkolaborasi untuk melanjutkan penelitiannya bersama-sama. Menyusun laporan dan berbagai macam data yang telah hilang.
***
Hari ini adalah hari dimana aku dan Ela serta kelompok lainnya mempresentasikan hasil penelitian. Jantungku berdegup lebih kencang daripada biasanya. Aku merasa laporan dan data yang telah kelompokku buat tidak sebaik data pertama yang telah hilang. Banyak sekali kekurangan karena waktu yang kami miliki begitu terbatas. Hanya dua hari, sedangkan data yang hilang itu membutuhkan waktu lebih dari satu bulan.
Kelompok yang mendapatkan kesempatan pertama untuk presentasi adalah kelompok Rama. Rama maju kedepan, dia terliat begitu percaya diri saat memasukan flashdisknya ke dalam laptop milik sekolah lalu membuka slide power point milik kelompoknya, tentu saja.
Namun, aku melihat ada keanehan pada slide yang mereka tampilkan. Isinya aneh. Aku sangat mengenali data yang mereka presentasikan. Data yang mereka tampilkan sama persis dengan milik kelompokku yang hilang. Tentu saja, aku sangat tidak terima. Ternyata, Rama yang telah mencuri data kelompokku.
Ku kepalkan tanganku, geram. Aku ingin sekali melampiaskan amarahku pada orang itu. Akan tetapi, aku tidak mungkin melakukannya. Aku harus menahan amarahku. Aku terus menatap Rama tajam saat dia mempresentasikan data yang bukan miliknya itu. Saat presentasinya berakhir, semua orang yang ada di ruangan itu memberi tepuk tangan yang meriah. Rama tersenyum dengan bangganya, begitu juga dengan teman sekelompoknya. Dua orang itu sama saja.
Kini, tiba saatnya aku dan Ela mempresentasikan hasil kerja kami. Aku harus yakin presentasi ini berjalan dengan lancar walaupun temanya sama dengan data yang Rama dan temannya sampaikan. Selama presentasi berlangsung semua orang yang ada di hadapanku menatap tajam seolah mempertanyakan kok sama? Dalam hal ini mereka kira aku yang salah. Padahal, seharusnya bukan aku yang salah tapi Rama. Meski begitu, presentasi tetap berjalan dengan lancar. Walaupun tidak ada tepuk tangan meriah saat aku dan Ela mengakhiri presentasi kami.
***
Semua kelompok yang ada di ruang multimedia sudah menyelesaikan presentasi mereka. Suasana ruang multimedia menjadi sepi, hanya ada aku dan Rama. Rama masih sibuk memasukan peralatannya ke dalam tas. Disaat itulah aku datang menghampirinya.
“ehm…pakai cara apa tuh ngambil datanya?” tanyaku pada Rama. Rama mendongakkan kepalanya untuk melihatku. Posisinya sekarang duduk sedangkan aku berdiri.
“cara yang tidak pernah terlintas sedikitpun diotakmu.”
Aku memutar otakku tapi aku tak paham dengan jawabannya. “maksudmu?”
“tanyakan saja pada sahabatmu.” Jawabnya lagi. Dia menggendong tasnya, lalu berdiri sebelum akhirnya dia pergi. “oh ya, satu lagi. Aku ngga nyuri data kamu, aku cuma minta.” Tambahnya sebelum pergi.
***
Keluar dari ruang multimedia, aku langsung menemui Ela di kelasnya. Dan aku langsung menanyakan perihal data penelitian. Aku bertanya tanpa berpikir panjang karena terbawa emosi.
“kamu ya yang ngasih data itu ke Rama?” tanyaku tanpa basa-basi. Ela tidak menjawab pertanyaanku. “data itu ngga hilang ‘kan?”
“kamu nuduh aku?”
“aku tanya bukan nuduh. Atau mungkin memang kamu yang merasa tertuduh.”
Ela mengeluarkan beberapa kalimat yang berisi pembelaannya. Entah kenapa dia bersikeras untuk tidak mengakuinya. Padahal, aku sudah tahu kalau memang dia berbohong. Aku bukan begitu saja mempercayai orang lain daripada sahabatku. Akan tetapi, bahasa tubuh Ela memang mengatakan begitu. Dia berbohong.
“baiklah kalau kamu ngga mau mengakuinya. Tapi, aku udah tahu kok. Aku hanya ingin kamu jujur, jika kamu masih menganggapku sahabatmu.” aku pasrah.
“iya, memang aku melakukannya.” Ucap Ela setelah lama membisu.
“tapi, kenapa?”
“an interesting offer.”
“maksudnya?”
“kamu tahu, aku sudah lama menyukai Rama tapi Rama menyukaimu. Sebenarnya, bukan hanya Rama. Orang yang menyukaimu sebelumnya juga begitu. Aku menyukai mereka tapi mereka menyukaimu. Aku lelah. Dan hari itu ada sebuah tawaran menarik dan bodoh dari Rama. Dia mau menuruti apa mauku asalkan aku bersedia memberikan data-data itu. Aku menerimanya begitu saja, seperti terhipnotis.” Jelas Ela panjang lebar.
“aku lega, ternyata kamu masih menganggapku sahabatmu. Kamu sudah berkata jujur.” Ucapku lantas memeluknya, pelukan sahabat.
“maafkan aku, La. Aku sudah mengecewakanmu. Menghapus mimpimu untuk ikut lomba PIR tahun ini.”
“sudahlah. Ada data itupun belum tentu lolos.”
***
Hari pengumuman kelompok pemenang yang akan mengikuti lomba PIR mewakili sekolah. Semua menunggu dengan jantung yang berdegub lebih cepat daripada biasanya. Mereka semua ingin terpilih tetapi hanya satu pasangan yang berhak ikut.
“saya umumkan kelompok yang mewakili sekolah kita adalah..” Bu Endang sengaja menggantungkan kalimatnya. “adalah kelompok Finda dan Ela.” Lanjut Bu Endang.
Aku tidak percaya kalau namaku disebut. Begitu juga dengan Ela.
“selamat untuk Finda dan Ela. Untuk yang lain jangan kecewa, masih banyak lomba PIR yang lain..”
Semua orang yang ada di ruangan tersebut memberi selamat kepadaku dan Ela. Akan tetapi, itu tidak termasuk Rama. Rama pergi sesaat setelah pengumuman. Dia terlihat begitu kecewa. Ya, dia sangat menginginkan kesempatan ini. Akan tetapi, dia telah berbuat curang. Mungkin, itu juga buah dari kecurangannnya. Curang belum tentu menang.
***
Aku berbaring di atas rerumputan taman belakang bersama Ela. Malam ini Ela menginap di rumahku. Kami berdua tengah menatap bintang-bintang yang sangat indah menghias langit malam. Beberapa hari terakhir kami mendapat banyak masalah dan saat ini kami sedang merenungi untuk diambil hikmahnya.
“kau tahu kenapa kita menang?” tanyaku pada Ela yang tampak tersenyum menatap langit. Dia sudah kembali menjadi sahabatku yang seperti biasanya.
“karena kita memang ditakdirkan menang.”
“selain itu, kita memang sudah berusaha keras dengan jerih payah kita sendiri.”
“benar.” Dia membenarkan ucapanku. “sekali lagi, aku minta maaf atas kebodohanku.”
“sudahlah, yang penting jangan diulangi dan kita ambil hikmahnya.”
Ela tesenyum padaku , aku juga tersenyum padanya. Suasana mulai hening dan kami terlarut dalam suasana malam.
“kamu tahu tidak, tenyata Rama ceroboh sekali. Masa kata Bu Endang, dia lupa ganti nama kita di data yang dia kumpulin.” Kataku, membuka pembicaraan lagi.
“yang benar?”
“iya, beneran. Maka dari itu Bu Endang curiga, dan kecurigaan terbukti. Ya.. Rama ngaku kalau data itu bukan milik kelompoknya.”
“bodoh sekali dia, sudah susah payah membujukku untuk memberi data itu, eh..dianya ceroboh gitu..”
“buah dari kecurangan.”
“benar.”
Langit malam menjadi saksi kebahagiaanku. Bintang di langit tersenyum melihat aku dan sahabatku saling menyatu setelah sebuah masalah menerjang kami. Setelah masalah itu selesai, aku merasa kami memang sudah ditakdirkan untuk bersahabat. Walaupun diterjang masalah, kami tetap menyatu. Dan, setelah menyelesaikan masalah, kami jadi semakin kuat.
Selesai
PROFIL PENULIS
Gadis biasa yang lahir di tahun 96. Hobinya menulis, menari, dan kadang suka menggambar desain baju.
sumber : www.lokerseni.web.id
SAHABATMU
Type: TV
Episodes: 24
Status: Finished Airing
Aired: Oct 2, 2009 to Mar 19, 2010
Producers: J.C. Staff, Geneon Universal Entertainment, FUNimation EntertainmentL, Movic, AT-X, ASCII Media Works, Project Railgun
Genres: Action, Fantasy, Sci-Fi, Super Power
Duration: 24 min. per episode
Rating: PG-13 - Teens 13 or older
Format : 3Gp,Mp4,HDQ
Sinopsis
Toaru Kagaku no Railgun adalah cerita sampingan berdasarkan cerita asli Kamachi (Toaru Majutsu no Index). Bertempat di Kota Akademi, sebuah kota di mana sekitar 80% dari 230.000 penduduknya adalah pelajar.
Protagonis utama seri ini adalah Misaka Mikoto, ke-3 dari 7 orang Esper terkuat level 5 di Kota Akademi. Esper adalah orang-orang yang memiliki kekuatan khusus yang datang dalam berbagai bentuk seperti teleportasi dan kontrol elemen. Mikoto memiliki kemampuan untuk mengontrol listrik sehingga mendapatkan julukan Biribiri dan Electromaster.
Tekhnik andalannya adalah dengan melibatkan sebuah koin kecil yang digunakan untuk memusatkan arus listrik ke koin itu dan mengibaskannya dengan arus listrik bertegangan tinggi yang melampaui kecepatan suara dan dapat menghancurkan segala apa yang melaluinya. Teknik ini memberinya julukan baru... Railgun.
Episode 1
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 2
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 3
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 4
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 5
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 6
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 7
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 8
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 9
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 10
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 11
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 12
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 13
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 14
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 15
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 16
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 17
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 18
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 19
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 20
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 21
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 22
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 23
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Episode 24
RD | 3GP | MP4 | HDQ |
SB | 3GP | MP4 | HDQ |
Thanks To Grogol.us
Toaru Kagaku No Railgun Season 1
Episodes: 24 Episode
Status: Completed
Genre : Action, Magic, Sci-Fi, Super Power
Subtitle : Indonesia
Format : 3Gp, Mp4, HD
Sinopsis
Bertempat di sebuah kota ilmiah dengan pelajar berkekuatan super, tapi di dunia ini sihir itu juga nyata. Tangan kanan Kamijou Touma, “The Imagine Breaker”, dapat menetralkan semua sihir, fisik, maupun kekuatan super, tapi bukan karena kesialannya. Suatu hari dia menemukan seorang gadis bergantung di terasnya. Dia adalah biarawati dari Gereja Inggris dan otaknya ditanam dengan “Index-Librorum-Prohibitum” segala tulisan sihir gereja itu dihilangkan dari sirkulasi.
Episode 13Gp | Mp4 | HD |
Episode 2
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 3
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 4
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 5
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 6
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 7
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 8
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 9
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 10
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 11
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 12
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 13
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 14
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 15
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 16
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 17
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 18
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 19
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 20
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 21
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 22
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 23
3Gp | Mp4 | HD |
Episode 24
3Gp | Mp4 | HD |






